Kampung Herbal di Surabaya Punya Tanaman Empon-empon Komplit, Intip Yuk

Esti Widiyana - detikNews
Kamis, 12 Mar 2020 19:00 WIB
Kampung Herbal di Surabaya
Kampung Herbal di Surabaya (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -
Kampung Herbal di Surabaya/Kampung Herbal di Surabaya/ Foto: Esti Widiyana

Sejak khasiatnya dipercaya menangkal virus corona, empon-empon kini banyak diburu masyarakat Indonesia. Sebab, kandungan kurkumin di dalamnya mampu meningkatkan imun tubuh.

Apa lagi, kini harga empon-empon naik di pasar. Namun warga Surabaya tak perlu khawatir lagi sebab di Kampung Herbal di Jalan Nginden VI membeli bibit rempah-rempah. Bahkan, disetiap rumah warga terdapat 5 jenis tanaman rempah-rempah.

Salah satu warga Irvan Darma Setiawan mengatakan ada 190 jenis tanaman herbal yang dimiliki kampung herbal ini. Empon-empon sendiri ada jahe merah, kunyit, secang, sambiloto, sereh, temulawak, lengkuas, daun dewa, pecut kuda, dan daun binahong.

"Kampung herbal ini awalnya dari 2015 sejak adannya lomba Surabaya Smart City (SSC). Karena melihat potensi warga akhirnya semakin dikembangkan sampai saat ini," kata Irvan di Kampung Herbal, Jumat (13/3/2020).

Tak hanya menanam, warga kampung juga memanfaatkan tanaman rempah atau herbal tersebut sebagai bahan dasar minuman herbal yang mereka produksi sendiri.

Setiap harinya kampung herbal menerima kunjungan pelajar maupun rombongan yang berasal dari berbagai daerah, seperti Madura, Sidoarjo hingga Kalimantan untuk belajar menanam tanaman rempah-rempah.

Bila biasanya sehari ada satu kali kunjungan, sejak mewabahnya virus corona di Indonesia kunjungan perharinya bisa mencapai 3 sampai 5 kali kunjungan.

"Setelah berkunjung biasanya mereka tertarik untuk membeli bibit tanaman yang kami jual dari mulai harga Rp 5 ribu rupiah," ujarnya.

Irvan menjelaskan, untuk rempah-rempahnya memang dijual pada masyarakat luas, tapi dibagikan kepada warga sekitar untuk diolah sendiri. Hanya bibitnya dan minuman herbal olahan warga yang dijual.

Dia menyampaikan, jika merawat tanaman rempah-rempah tidak boleh banyak terkena sinar matahari.

"Makanya kami beri tanaman yang besar untuk melindungi tanaman-tamanan kecil di bawahnya, karena tanaman rempah tidak bisa banyak terkena matahari. Untuk menyiramnya juga tidak bisa terlalu banyak agar tak cepat busuk. Bila tanaman sudah kering baru bisa diberi air kembali," pungkasnya.

(fat/fat)