Hari Kanker Sedunia, Khofifah Tawarkan Layanan Paliatif Berbasis Pesantren

Hilda Meilisa - detikNews
Rabu, 26 Feb 2020 21:48 WIB
gubernur khofifah hari kanker sedunia
Foto: Istimewa
Surabaya -

Gubernur Khofifah Indar Parawansa turut dalam peringatan Hari Kanker sedunia yang digelar Yayasan Kanker Indonesia Cabang Jawa Timur. Khofifah menawarkan layanan paliatif berbasis pesantren sebagai salah satu layanan bagi penderita kanker, khususnya penderita stadium lanjut.

"Menurut saya potensi Jawa Timur cukup besar untuk menyiapkan perawatan paliatif berbasis pesantren," kata Khofifah di Kantor Gubernur Jatim Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu (26/2/2020).

Khofifah menyebut layanan paliatif berbasis pesantren dapat dilakukan melalui kerjasama dan koordinasi berbagai pihak. Misalnya kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Timur ataupun YKI dengan Fakultas Kedokteran dan pesantren-pesantren yang ada di Jawa Timur.

"Ketika KKN mahasiswanya bisa diarahkan untuk memberikan pelayanan di petawatan paliatif berbasis pesantren," imbuh Khofifah.

Khofifah menambahkan salah satu keuntungan yang bisa didapatkan dari layanan paliatif berbasis pesantren yakni tidak perlu mendirikan bangunan baru. Hanya perlu melakukan rehab di pesantren yang nantinya ditetapkan sebagai sarana untuk layanan paliatif berbasis pesantren.

Selain itu, jika layanan tersebut dijalankan, maka penderita kanker tidak hanya mendapatkan layanan medis saja. Tetapi sekaligus mendapatkan siraman spiritual dari pengasuh pesantren.

"Jadi nggak perlu bikin bangunan baru, paling rehab sedikit dan bisa mendapatkan penguatan spiritual dari pesantren kemudian bisa kunjungan para dokter. YKI punya fungsi preventif, promotif dan supportif. Pesantren memiliki kemampuan support yang luar biasa, khususnya membangun ketenangan hati melalui dzikir dan sebagainya," papar Khofifah.

Menurut Khofifah, pendekatan paliatif yang menitikberatkan pada peningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya, merupakan kebutuhan penting bagi penderita kanker. Hal ini karena banyak orang yang mendapatkan vonis dari dokter, kehilangan semangat hidup dan cenderung berputus asa.

"Paliatif itu menurut saya adalah sebuah kebutuhan apalagi kalau mereka yang sudah divonis oleh dokter tinggal berapa bulan misalnya, biasanya sudah hopeless, semangat hidup mereka yang harus dibangkitkan," jelasnya.

Untuk itu, Khofifah mengusulkan adanya perluasaan YKI di Kabupaten atau Kota di Jawa Timur. Karena, di Jatim masih belum semuanya terdapat YKI.

"Saya berharap bahwa akan bisa diluaskan cabang kabupaten atau kotanya," usulnya.

Khofifah berharap adanya peran dari PKK dan Dharma Wanita untuk melakukan sosialisasi pada masyarakat sekitar terkait kanker. Terutama kanker payudara dan kanker serviks yang menjadi penyebab tertinggi kematian wanita di Indonesia.

"Nah sekarang PKK nya sudah harus mengkomunikasikan tentang breast cancer dan servik ini terutama sampai posyandu kalau bisa dasa wisma, sehingga langkah-langkah preventif bisa dilakukan secara lebih komprehensif," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua YKI Jatim, Nina Kirana Soekarwo menyampaikan kepada semua pihak untuk peduli terhadap persoalan kanker di tengah-tengah masyarakat.

Nina mengingatkan agar semua pihak berupaya untuk mencegah kanker melalui pola hidup sehat dengan kata kunci cerdik. Yaitu, Cek Kesehatan Secara Rutin, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Olahraga, Diet Seimbang, Istirahat Cukup dan Kelola Stres.

"Ibu-ibu tentu masih ingat kata kunci cegah kanker dengan berpola hidup sehat dengan kata kunci cerdik," kata perempuan yang akrab disapa Budhe Karwo ini.

Sementara dalam acara ini, hadir pula Wakil Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat Murniati Widodo AS, Ketua TP PKK Provinsi Jatim Arumi Emil Elestianto Dardak, Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jatim Nina Kirana Soekarwo, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Jatim Gardjati Heru Tjahjono, hingga pengurus YKI Jatim, pengurus DWP Jatim serta Pengurus TP PKK Jatim.

(hil/iwd)