Dua Orang Jadi Tersangka Kasus Investasi Bodong Penggemukan Sapi

Charoline Pebrianti - detikNews
Sabtu, 22 Feb 2020 12:24 WIB
investasi bodong penggemukan sapi di ponorogo
Kantor CV Tri Manunggal Jaya (Foto: Charoline Pebrianti)
Ponorogo -

Dua orang ditetapkan jadi tersangka kasus investasi penggemukan sapi bodong di Ponorogo. Jumlah korban yang melapor pun juga bertambah.

Kedua tersangka adalah Hadi Suwito sebagai pemilik CV Tri Manunggal Jaya (TMJ) dan bendahara Arie Setiawan.

"Kami menetapkan HS dan AS ini sebagai tersangka dalam kasus investasi fiktif berupa penggemukan sapi perah, mereka bertindak selaku pemilik dan bendahara dari CV TMJ," tutur Kapolres Ponorogo AKBP Arief Fitrianto kepada detikcom, Sabtu (22/2/2020).

Arief mengatakan modus para tersangka menawarkan kepada masyarakat secara door to door investasi penggemukan sapi perah dengan sistem paket. Satu paket seharga Rp 17,6 juta ditambah administrasi menjadi Rp 19 juta per satu ekor sapi.

"Dari satu paket ini dijanjikan keuntungan Rp 2,3 juta per bulan," terang Arief.

Menurutnya, iming-iming tersebut menggiurkan masyarakat ditambah penjelasan dari tersangka jika CV ini ada subsidi dari pemerintah sehingga harga sapi lebih murah.

"Kemudian juga ada iming-iming kerjasama dengan pabrik susu ternama, setelah kita cek semuanya fiktif," imbuh Arief.

Disinggung soal keuntungan, lanjut Arief, korban mendapat uang dari investor lain yang diputar oleh perusahaan. Sehingga korban tertarik karena mendapat untung.

"Akhirnya korban menambah lagi modalnya, ada yang beli 50 sampai 100 paket, korban ini terus bertambah," tukas Arief.

Arief menambahkan, pada awal kasus ini ada 7 orang yang melapor. Kini pelapor bertambah menjadi 14 orang korban. Arief mengimbau kepada masyarakat yang merasa dirugikan dengan kasus penipuan investasi penggemukan sapi bodong, bisa datang dan melapor ke Polres Ponorogo.

"Kami akan tindaklanjuti dan kami lakukan penyelidikan secara tuntas kasus ini," lanjut Arief.

Terkait uang para korban, menurut Arief, uang digunakan untuk membeli aset perusahaan berupa kantor dan tanah yang ada di Ponorogo.

"Kami jerat dengan pasal penipuan dan penggelapan 378 dan 372 dengan ancaman 4 tahun penjara, jika nanti ada unsur pencucian uang akan kita kejar ke pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)," pungkas Arief.

(iwd/iwd)