Pemalsu Dokumen untuk Kacaukan Pilkada Dibekuk, Omzetnya Rp 1 Miliar

Hilda Meilisa - detikNews
Senin, 17 Feb 2020 14:05 WIB
pemalsuan dokumen
Seorang pemalsu dokumen beromzet 1 miliar dibekuk (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya -

Polisi meringkus seorang pemalsu dokumen seperti akta kelahiran, e-KTP, paspor, hingga Kartu Keluarga (KK). Dokumen ini nantinya akan dimanfaatkan untuk kepentingan Pilkada.

"tersangka memasukkan dokumen dari level tingkat bawah dari desa dan kelurahan yaitu surat-surat mulai dari KK (kartu keluarga), akta kelahiran, KTP, keterangan domisili yang mana ini akan digunakan untuk kepentingan Pemilukada, Pilkades, dan paspor," ujar Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan saat rilis di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Senin (17/2/2020).

Luki mengatakan penangkapan tersangka bernama Anton S ini dilakukan karena ingin mengamankan jalannya Pilkada yang damai dan jujur. Terlebih, tersangka menjual surat palsunya Rp 2 juta setiap surat dan mengantongi omzet hingga Rp 1 miliar. Luki menyebut tercatat ada 500-an lebih pesanan.

"Sudah tujuh bulan beroperasi, omzetnya bisa senilai Rp 1 miliar. Seorang bisa kena Rp 2 juta dan ini akan kami kembangkan terus," imbuh Luki.

Dokumen yang dipalsukanDokumen yang dipalsukan (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)

Tak hanya itu, Luki menyebut jaringan pemesan surat palsu juga cukup luas. Mulai dari Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Maluku.

Nantinya, Luki menyebut akan menggandeng Dispendukcapil, Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu untuk mengawasi proses Pemilu yang jujur. Luki juga akan menggandeng Imigrasi untuk mengawasi keaslian paspor yang ada.

"Kami ketahui bersama ada 270 Pilkada di seluruh Indonesia, tidak menutup kemungkinan modus pemalsuan dokumen ini akan menjadi marak dan digunakan terutama untuk kepentingan nanti pencoblosan," imbuh Luki.

Selain itu, Luki menyebut barang yang dipalsukan Ini cukup mirip. Namun, jika dicek hologram hingga barcodenya akan terlihat asli atau palsu.

Sementara itu, Anton mengaku dirinya memang menerima pesanan. Jika ada yang memesan, baru dia membuatkan surat sesuai pesanan.

"Pertama ada yang pesan dan saya berinisiatif membuatkan. Yang saya buat surat ini surat perekaman ini, terus akta kelahiran sama surat domisili sama kartu keluarga," papar Anton.

Dalam hasil pengungkapan ini, polisi mengamankan dokumen palsu yang berhasil dibuat, puluhan stempel, laptop, dan printer. Sedangkan pelaku terkenal pasal pasal 263 ayat 1 dan 2.

(hil/iwd)