Menyimak Perjuangan 'Pahlawan' Ekonomi Bagi Nelayan di Pulau Bawean

Tim detikcom - detikNews
Senin, 27 Jan 2020 07:07 WIB
Saat Bripka Popong Yulianto dan nelayan menangkap ikan/Foto: Istimewa
Surabaya -

Bagi nelayan di Pulau Putri atau Pulau Bawean, Bripka Popong Yulianto merupakan 'Pahlawan' ekonomi. Bintara polisi berusia 37 tahun ini dianggap telah membantu meningkatkan ekonomi nelayan di sana.

Tidak hanya meningkatkan perekonomian, pria yang bertugas sebagai anggota Pengamanan Internal Polri (Paminal) Polres Gresik itu juga mengubah perilaku nelayan di Pulau Bawean. Nelayan diajak mencintai lingkungan laut khususnya terumbu karang dan habitat laut.

Beberapa tahun lalu, saat Popong pulang ke kampungnya di Bawean, melihat cara mencari ikan nelayan menggunakan putau atau putasium serta tumbak. Padahal, cara itu bisa merusak terumbu karang serta habitat lainnya yang ada di laut.


Selain itu, ikan yang ditangkap juga dalam kondisi mati, karena terkena obat atau tumbak. Harganya pun relatif murah Rp 50 ribu/kg. Padahal harga ikan di Jawa (Surabaya atau Gresik, red) bisa tembus Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu/kg jika dalam kondisi hidup.

Melihat hal itu, bapak dua anak ini terpanggil untuk mencari solusi. Pertama yang dilakukan yakni menembus salah satu eksportir ikan di wilayah Gresik. Namun ia mengalami kesulitan bahkan hingga ke Surabaya.

"Kami rasanya hampir putus asa karena berbulan-bulan cari solusi itu tidak ketemu. Suatu ketika ada yang memberitahu, bahwa salah satu eksportir di wilayah Bandara Juanda, Sidoarjo,"jelas suami Husnus Zurfah itu, Senin (27/1/2020).

Awalnya ia mengalami kesulitan karena banyak orang yang tidak dikenal. "Tetapi berkat ketelatenan melakukan pendekatan, salah seorang ada yang menjelaskan ke saya, bahwa kalau mau ikan kerapu harga mahal ya harus dijual hidup-hidup. Tetapi pembelinya dari luar negeri. Harga katanya bisa tembus mulai Rp 500 rubu/kg hingga Rp 800 ribu/kg," terangnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2