Kaleidoskop 2019

Predator Anak asal Mojokerto yang Pertama Dihukum Kebiri Kimia di Indonesia

Enggran Eko Budianto - detikNews
Minggu, 29 Des 2019 12:23 WIB
Aris saat diwawancara wartawan di Lapas Klas IIB Mojokerto (Foto file: Enggran Eko Budianto/detikcom)

Tiga bulan setelah itu, atau sekitar Oktober 2018, lanjut Sobirin, Aris diringkus polisi. Karena tukang las ini terekam kamera CCTV usai memerkosa seorang anak di sebuah perumahan Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

"Yang bikin saya pusing, kasus yang di Mengelo juga diakui adik saya. Dan ada kasus-kasus lain yang juga diakui adik saya. Itu benar-benar dia pelakunya atau bukan? Saya orang tak punya, minta bantuan pengacara juga tidak bisa," terangnya.

Sobirin berdalih, Aris mengaku telah memerkosa anak-anak di Kabupaten dan Kota Mojokerto diduga karena mendapatkan tekanan dari polisi. Dugaan ini salah satunya dia dengar dari pemilik bengkel las tempat adiknya bekerja.

"Saat itu saya menjenguk adik saya di tahanan polisi, saya tanya sama dia kenapa mengakui banyak kasus, katanya karena ditekan," ungkapnya.

Ketika publik dibuat penarasan dengan pelaksanaan hukuman kebiri kimia terhadap Aris, pemerintah justru belum siap melakukan eksekusi. Ternyata Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur petunjuk teknis eksekusi kebiri kimia belum disahkan. Ditambah lagi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak menjadi eksekutornya.

Aris saat masuk di Lapas Mojokerto/Aris saat masuk di Lapas Mojokerto/ Foto: Enggran Eko Budianto


Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono mengatakan, pihaknya menunggu petunjuk dari Kejaksaan Agung untuk mengeksekusi Aris. Dia berpendapat, eksekusi kebiri kimia bisa dijalankan saat hukuman penjara Aris tinggal 2 tahun. Pendapatnya itu sesuai ketentuan UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU RI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Dua tahun sebelum pidananya habis, dikebiri, kemudian disembuhkan. Jaksa yang memulihkan dengan meminta tolong teman-teman medis untuk memulihkan sesuai keadaan sebelum dia dikebiri," kata Rudy saat dihubungi detikcom, Senin (2/9).

Aris juga diadili karena memerkosa 1 anak di wilayah hukum Polres Mojokerto Kota. Dia divonis 8 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan oleh PN Mojokerto pada 20 Juni 2019. Vonis ini baru diterapkan terhadap Aris setelah dia menjalani hukuman dalam vonis pertama. Yaitu 12 tahun penjara, denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan, serta pidana tambahan kebiri kimia.

Tidak hanya soal eksekusi kebiri kimia, pemerintah juga dibebani tanggung jawab untuk memastikan hak restitusi 10 korban dipenuhi. Hak restitusi bagi para korban diatur dalam Pasal 71D ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2OO2 tentang Perlindungan Anak. Sementara petunjuk teknisnya diatur dalam PP nomor 43 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Restitusi Bagi Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana.

Kerugian materi maupun nonmateri yang dialami para korban dikonversi dalam rupiah untuk diajukan keluarganya ke PN Mojokerto. Ganti rugi tersebut akan dibebankan kepada Aris setelah melalui putusan pengadilan. Persoalannya, Aris tergolong warga kurang mampu sehingga tidak akan sanggup membayar hak restitusi para korban. Lantas siapa yang akan membayarnya?
Halaman

(fat/fat)