Kaleidoskop 2019

Predator Anak asal Mojokerto yang Pertama Dihukum Kebiri Kimia di Indonesia

Enggran Eko Budianto - detikNews
Minggu, 29 Des 2019 12:23 WIB
Aris saat diwawancara wartawan di Lapas Klas IIB Mojokerto (Foto file: Enggran Eko Budianto/detikcom)

Ia menjelaskan, Pasal 81 ayat (5) dalam undang-undang tersebut mengatur hukuman bagi Aris bisa lebih berat dari 15 tahun penjara menjadi 20 tahun, seumur hidup, atau hukuman mati. Karena tukang las asal Dusun Mengelo, Desa/Kecamatan Sooko, Mojokerto itu lebih dari sekali memerkosa anak-anak.

"Apabila ketentuan Pasal 81 ayat 5 diberlakukan, maka terdakwa bisa dikenai pidana tambahan kebiri kimia seperti yang diatur dalam Pasal 81 ayat 7. Untuk memberikan rasa keadilan kepada masyarakat, itulah putusan terbaik dari majelis hakim," cetus Erhammudin.

Sebelum ditahan akhir Oktober 2018, Aris bekerja sebagai tukang las di Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko. Penghasilannya rata-rata Rp 280 ribu sepekan. Penghasilan yang minim tersebut menjadi alasan bagi Aris untuk tidak melampiaskan nafsunya terhadap wanita dewasa.

"Saya tidak punya uang (untuk berhubungan dengan wanita dewasa)," ujar bujangan yang sudah ditinggal mati ibunya itu kepada wartawan di Lapas Klas II B, Mojokerto, Jalan Taman Siswa, Senin (26/8).


Aris mengaku kekerasan seksual terhadap anak-anak yang dia lakukan, salah satunya terpengaruh video porno. Tukang las ini pun menolak dihukum kebiri kimia.

"Kalau suntiknya (kebiri kimia) saya tolak. Karena kata temam saya efeknya seumur hidup. Saya pilih mati saja daripada disuntik kebiri," ujarnya.

Keluarga Aris juga tidak terima dengan vonis kebiri kimia dari para hakim. Kakak kandung Aris, Sobirin (33) menyebut, adiknya tidak memerkosa semua korban yang dituduhkan polisi maupun jaksa penuntut umum. Khususnya seorang anak TK yang juga tetangganya di Dusun Mengelo. Menurut dia, saat korban diperkosa di kamar mandi masjid Desa Sooko sekitar bulan Juli 2018, Aris sedang bekerja di bengkel las Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko.

"Adik saya dituduh tanpa bukti apapun. Saat dipertemukan korban dengan adik saya dan pelaku lain di Balai Desa Sooko, korban menunjuk orang itu, tidak adik saya. Pelakunya orang Mengelo sendiri. Murni, bersih bukan adik saya, tapi setelah itu pelakunya dilepas," kata Sobirin kepada wartawan di rumahnya, Rabu (28/8).
Selanjutnya
Halaman
1 2 3