Kak Seto Dukung Hukuman Kebiri untuk Predator Anak, tapi...

Hilda Meilisa - detikNews
Jumat, 29 Nov 2019 14:25 WIB
Predator anak diamankan (Hilda Meilisa Rinanda/detikcom)
Predator anak diamankan (Hilda Meilisa Rinanda/detikcom)
Surabaya - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengaku prihatin melihat kasus kekerasan seksual pada anak. Dia juga berpendapat hukuman kebiri layak dijatuhkan kepada para predator anak. Namun harus ada beberapa hal yang diperhatikan.

Saat menghadiri rilis kasus predator anak di Mapolda Jatim, Kak Seto menyebut hukuman kebiri kimia harus berasal dari kemauan dan kesadaran pelaku. Namun, sebelum itu, pelaku harus diberi pendampingan psikologis.

Kak Seto menyebut pendampingan psikologis ini penting untuk memberi pemahaman pelaku terkait kondisi libidonya. Sebab, libido pelaku kejahatan seksual pada anak biasanya sangat tinggi dan bisa membahayakan anak-anak.

Namun, jika pelaku langsung dikebiri tanpa diberi pemahaman, Seto khawatir pelaku akan balas dendam untuk melakukan hal-hal yang lebih sadis.


"Harus dilakukan rehabilitasi sebagai upaya yang diikuti dengan kesadaran bukan sekadar balas dendam. Jadi tidak akan menyakitkan. Kalau balas dendam, bahayanya nanti (jika sudah dikebiri). Oke, mungkin dia sudah tidak bisa menggunakan alat kelaminnya. Tetapi dengan segala cara yang lebih sadis bisa dilakukan," kata Seto di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Jumat (29/11/2019).

"Maka intinya tadi, justru harus ada pendekatan psikologis untuk mengajarkan kepada pelaku kalau pelaku ini libidonya terlalu tinggi sehingga dengan mudah mengulang lagi ketika keluar," imbuhnya.

Selain itu, pelaku harus diberi pemahaman bahwa kebiri dilakukan untuk menyembuhkan kelainan seksual yang diderita pelaku. Jika tujuannya untuk pengobatan, Seto yakin Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bisa membantu karena sejalan dengan visi-misi dan sumpah dokternya.

"Untuk mencegah itu supaya dia tidak mengulangi lagi, kebiri harus ada atas permintaan itu. Jadi kebiri harus dilakukan untuk 'pengobatan'. Nah, ini kan yang ditolak dari IDI kalau itu sebagai hukuman karena dokter itu menyembuhkan. Tapi (kebiri tanpa persetujuan pelaku) itu tidak menyembuhkan dalam konteks psikologisnya," lanjutnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2