KPPU akan Kawal Bisnis Online yang Makin Subur

KPPU akan Kawal Bisnis Online yang Makin Subur

Eko Sudjarwo - detikNews
Kamis, 31 Okt 2019 18:45 WIB
Foto: Eko Sudjarwo
Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Bisnis online saat ini mengalahkan bisnis konvensional. Untuk itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan menyiapkan dan menyikapi regulasi yang ada sehingga sistem bisnis secara online ini bisa berjalan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia.

Ketua KPPU, Kurnia Toha menyebut, bisnis online atau yang saat ini dikenal dengan istilah ekonomi digital meningkat sangat pesat. Bahkan, kata Kurnia, beberapa swalayan besar yang berada di kota-kota metropolitan banyak yang mulai tutup atau gulung tikar dikarenakan adanya bisnis online secara masif.

"Tentu ini akan menjadi sebuah perhatian khusus dari KPPU bagaimana menyiapkan dan juga menyikapi regulasi yang ada sehingga sistem bisnis secara online ini bisa berjalan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia," kata Kurnia Toha saat sosialisasi tentang peran dan fungsi KPPU kepada akademisi di universitas Islam darul ulum (Unisda) Lamongan, Kamis (31/10/2019).

Komisioner lainnya, Guntur Saragih menambahkan, KPPU akan memfokuskan penanganan perkara tentang ekonomi digital. Pasalnya, tandas Guntur, dari laporan e-Conomy SEA 2019 yang pernah dirilis oleh Google, Temasek dan Bain menyatakan perkembangan ekonomi digital indonesia adalah yang terbesar dan tumbuh paling cepat di Asia tenggara dengan proyeksi mencapai USD 40 miliar atau 567,409 triliun pada tahun 2019 dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 49 persen.

"Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia tenggara tahun ini, mengalahkan beberapa negara tetangga yakni Thailand (USD 16 miliar), Singapore (USD 12 miliar), Vietnam (USD 12 miliar), Malaysia (USD 11 miliar) dan Filipina (USD 7 miliar)," jelas Guntur.


Data ini, lanjut Guntur, akan menjadi pemicu bagi anggota KPPU agar lebih memfokuskan pada ekonomi digital karena Indonesia menjadi negara yang cukup potensial dan seksi dalam bisnis model ini.

"Fokus pada ekonomi digital ini sekaligus juga menjawab kritikan beberapa pakar dan ahli bahwa penangan perkara yang ditangani oleh KPPU didominasi oleh soal tender, yakni berkisar 80 persen," terang Guntur dalam acara yang dihadiri 200 lebih peserta ini.

Sementara Rektor Unisda Lamongan Ainun Masruroh mengatakan, sebagai wujud dukungan terhadap persaingan yang sehat, Unisda telah membentuk membentuk beberapa kelompok kajian, baik di fakultas maupun di program studi. "Kelompok kajian ini beranggotakan dosen-dosen yang mumpuni dan professional," jelasnya.

Ainun mengungkapkan, sosialisasi oleh KPPU di Unisda Lamongan ini menjadi hal yang penting. Sebab persaingan usaha menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan roda perekonomian negara, dapat mempengaruhi kebijakan yang berkaitan tentang perdagangan, industri, iklim usaha yang kondusif, kepastian dan kesempatan berusaha, efisiensi, kepentingan umum, kesejahtraan rakyat dan lain sebagainya.

"Saya selaku rektor berkomitmen untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman dan informasi serta melibatkan langsung mahasiswa terbaik untuk mengambil bagian di KPPU pusat ataupun Wilayah," pungkas Ainun dalam acara yang juga dihadiri oleh Komisioner KPPU lainnya, M Afif Hasbullah itu.


Simak juga video "Tren Berbisnis di Twitter Kian Melonjak" :

[Gambas:Video 20detik]

(fat/fat)