Perajin Bata Merah Keluhkan Kompensasi Situs Kumitir di Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 31 Okt 2019 13:51 WIB
Situs Kumitir di mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto-detikcom)

Hal senada dilontarkan Nurali. Menurut dia, 10 perajin bata merah yang di tanah sewaannya terdapat struktur talud juga mengalami kerugian yang sama. Yaitu kehilangan tanah bahan baku bata merah dengan volume 16,8 meter kubik.

"Harapan kami BPCB memberikan kompensasi atas kehilangan tanah tersebut kepada 10 perajin yang ada di sini," terangnya.

Permintaan kompensasi tersebut disampaikan para perajin bata merah secara lisan ke Arkeolog BPCB Jatim Nugroho Harjo Lukito usai acara penyerahan imbalan jasa bagi Muchlison dan Nurali. Nugroho justru menyuruh para perajin untuk meminta potongan biaya sewa tanah kepada pemilik lahan.

Perdebatan anatara para perajin dengan Nugroho pun sempat terjadi. Para perajin mengaku tidak mungkin meminta potongan biaya sewa tanah ke pemilih lahan karena sudah disepakati saat awal menyewa sekitar 1,5 tahun lalu. Yaitu senilai Rp 18 juta untuk menggarap tanah 10 x 50 meter persegi selama 3,5 tahun.


"Kalau begitu, akan saya rembukkan dulu dengan atasan saya. Semoga hasilnya bisa menyenangkan bapak-bapak semua," cetus Nugroho kepada para perajin.

Situs Kumitir ini pertama kali ditemukan Muchlison dan Nurali saat menggali tanah untuk bata merah, Rabu (19/6/2019). Setelah menggali sebagian truktur kuno ini, mereka baru melapor ke BPCB Jatim.

Ekskavasi dilakukan para arkeolog 21-30 Oktober 2019. Sejauh ini penggalian arkeologis telah menampakkan struktur talud sepanjang 100 meter. Tembok penguat tanah ini diperkirakan mengelilingi sebuah bangunan suci yang menjadi tempat pendharmaan 2 raja Singosari. []
Halaman

(fat/fat)