Perajin Bata Merah Keluhkan Kompensasi Situs Kumitir di Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 31 Okt 2019 13:51 WIB
Situs Kumitir di mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto-detikcom)
Mojokerto - Para perajin bata merah di lokasi penemuan Situs Kumitir, Mojokerto mengeluhkan tak adanya kompensasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Padahal akibat keberadaan situs tersebut, mereka kehilangan tanah yang menjadi bahan baku pembuatan bata merah.

Situs Kumitir ditemukan di lahan pembuatan bata merah Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo. Situs tersebut berupa talud kuno atau tembok penguat tanah yang panjangnya lebih dari 200 meter. Ketebalan tembok yang tersusun oleh bata merah kuno itu mencapai 140 cm dengan ketinggian lebih dari 120 cm.

Setidaknya terdapat 10 perajin bata merah yang lahannya terdampak penemuan struktur talud. Setiap perajin menggarap lahan 10 x 50 meter persegi.

Namun hari ini, BPCB Jatim hanya memberikan imbalan jasa kepada Muchlison (49) dan Nurali (45), perajin bata merah yang pertama kali menemukan Situs Kumitir. Masing-masing menerima Rp 1 juta.


Bukannya senang mendapatkan imbalan jasa, Muchlison justru mengaku kecewa dengan BPCB Jatim. Pasalnya, nilai uang yang dia terima tidak sebanding dengan kerugian yang dialami akibat keberadaan struktur talud di tanah yang disewa.

Karena adanya bangunan talud di tanah yang disewa, membuat bapak dua anak ini kehilangan tanah dengan volume sekitar 16,8 meter kubik. Menurut dia, setiap meter kubik tanah jika diolah bisa menjadi 1.000 bata merah.

"Sekarang harga bata merah Rp 350 ribu per seribu bijinya. Adanya situs ini saya sudah rugi kurang lebih Rp 5,8 juta. Oleh sebab itu imbalan jasa Rp 1 juta dari BPCB tidak sebanding dengan kerugian saya," kata Muchlison saat berbincang dengan detikcom di lokasi penemuan Situs Kumitir, Kamis (31/10/2019).
Selanjutnya
Halaman
1 2