detikNews
Rabu 16 Oktober 2019, 17:57 WIB

Penderita Gagal Ginjal Minta Permenkes 30 Tak Hapus Fasilitas Hemodialisis

Adhar Muttaqin - detikNews
Penderita Gagal Ginjal Minta Permenkes 30 Tak Hapus Fasilitas Hemodialisis Salah seroang pasien gagal ginjal di Trenggalek, Yoso Mihardi (Foto: Adhar Muttaqin)
Trenggalek - Dampak Terbitnya Permenkes Nomor 30 Tahun 2019 Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit mulai dikhawatirkan penderita gagal ginjal. Sebab apabila rumah sakit tipe C benar-benar dilarang melayani cuci darah (hemodialisis) maka akan menyulitkan para pasien.

Salah seorang pasien gagal ginjal di Trenggalek, Yoso Mihardi, mengatakan adanya fasilitas hemodialisis (HD) di rumah sakit tipe C RSUD dr Soedomo Trenggalek sangat membantu dalam melayani cuci darah puluhan pasien. Sebab ia dan para penderita lainnya tidak perlu jauh-jauh ke luar kota.

"Kami tidak perlu jauh-jauh, apalagi kalau untuk teman-teman dari Munjungan. Andai kata ini nanti (permenkes) berlaku dan harus ke luar daerah, bagaimana perjalannya nanti, pasti akan sangat menyulitkan, padahal minimal tiap sepekan harus dua kali cuci darah," kata Yoso Mihardi, Rabu (16/10/2019).

Belum lagi saat ini rata-rata layanan hemodialisis di luar kota telah penuh, sehingga harus mengantre. Padahal menurutnya tersendatnya layanan cuci darah dapat mengancam nyawa para pasien.


Pihaknya berharap kepada para pemangku kebijakan untuk tetap mempertahankan fasilitas hemodialisis yang ada di RSUD dr Soedomo Trenggalek. Terlebih saat ini fasilitas yang ada telah melayani 600 kali tindakan cuci darah setiap bulan dengan jumlah pasien tetap mencapai 72 orang.

"Semoga pemerintah daerah terutama Pak Bupati bisa mempertahankan itu (fasilitas Hemodialisis)," kata mantan Kabag Humas Pemkab Trenggalek ini.

Sementara itu Kepala Instalasi Hemodialisis RSUD dr Soedomo, dr Agus Dahana SpPD, mengatakan para pasien cuci darah di Trenggalek saat ini mencapai 72 pasien dengan jumlah antrean masuk mencapai 150 pasien.

"72 pasien ini yang menerima layanan di dr Soedomo, sedangkan 150 adalah warga Trenggalek yang saat ini mendapat layanan di luar kota. Mereka ini pasti ingin dapat layanan di Trenggalek karena lebih dekat," ujarnya.

Namun pihak rumah sakit masih belum mampu melayani pasien "waiting list" karena keterbatasan peralatan. Mengingat saat ini rumah sakit plat merah tersebut hanya memiliki 12 mesin hemodialisis.


"Yang 150 pasien itu bukan belum dapat layanan, mereka sudah dapat layanan HD hanya saja di luar daerah," imbuhnya.

Terkait Permenkes 30 Tahun 2019 tersebut pihak rumah sakit hanya menunggu kebijakan yang akan diambil pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Menurutnya, dalam permenkes baru tersebut dijelaskan hanya rumah sakit tipe A dan B yang diperbolehkan memberikan layanan cuci darah. Sehingga untuk mempertahankan layanan cuci darah rumah sakit tipe C seperti di Trenggalek hanya memiliki dua pilihan yakni menaikan kelas rumah sakit menjadi tipe B serta menunggu kebijakan khusus dari pemerintah pusat.


Simak juga video "Sidang Gugatan ke Prabowo soal 'Selang Cuci Darah RSCM' Berlanjut" :

[Gambas:Video 20detik]


(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com