detikNews
Jumat 04 Oktober 2019, 13:39 WIB

Kemenperin Ciptakan Lingkungan Industri di Ponpes Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Kemenperin Ciptakan Lingkungan Industri di Ponpes Banyuwangi Kemenperin Ciptakan Lingkungan Industri di Ponpes Banyuwangi/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) makin gencar menciptakan wirausaha baru di lingkungan pondok pesantren melalui program Santripreneur. Upaya ini dimaksudkan agar para lulusan pondok pesantren bisa turut mendorong penumbuhan industri kecil dan menengah (IKM).

Sebagai implementasi dari Santri Berindustri, kegiatan bimbingan teknis dan bantuan mesin/peralatan pengolahan roti diberikan kepada santriwan dan santriwati Ponpes Mabadiul Ihsan, yang digelar di Hotel Santika, Jumat (4/10/2019).

"Selama ini, kami terus melaksanakan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya pada pengembangan IKM di lembaga pendidikan keagamaan termasuk pondok pesantren," kata Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih kepada detikcom.

Berdasarkan sensus Kementerian Agama di tahun 2014-2015, jumlah pondok pesantren di Indonesia diperkirakan sebanyak 28.961 yang tersebar di seluruh provinsi dengan total santri sekitar 4.028.660 santri. Dari total 28.961 pondok pesantren, sekitar 23.331 pondok pesantren (80 persen) di antaranya tersebar di empat provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten.

"Dengan jumlah pondok pesantren dan santri yang cukup besar, pondok pesantren memiliki potensi yang strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional salah satunya melalui penumbuhan wirausaha industri baru di lingkungan pondok pesantren," jelas Gati.

Gati menjelaskan, program Penumbuhan Wirausaha Baru IKM di Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan diberikan dalam bentuk bimbingan teknis serta fasilitasi mesin/peralatan produksi roti, yang dilaksanakan pada tanggal 3 - 6 Oktober 2019.


Selain pelaksanaan bimbingan teknis WUB, pada kesempatan ini Ditjen IKMA Kementerian Perindustrian juga memberikan bantuan sebanyak 16 jenis mesin peralatan pengolahan roti.

"Fasilitasi ini kami berikan agar dapat dipergunakan untuk meningkatkan produktivitas para santri dalam pengolahan produksi roti." ungkapnya.

Hingga saat ini, Ditjen IKMA terus terlibat aktif dalam menumbuhkan santripreneur, Gati mengatakan sejak tahun 2013, Ditjen IKMA telah membina sebanyak 41 pondok pesantren dengan lebih dari 4.000 santri telah diberikan pelatihan produksi, serta motivasi kewirausahaan.

"Cakupan ruang lingkup pembinaan kami diantaranya pelatihan produksi dan bantuan mesin/peralatan di bidang: olahan pangan & minuman (roti dan kopi); perbengkelan roda dua; kerajinan boneka dan kain perca; konveksi busana muslim & seragam; daur ulang sampah dan produksi pupuk organik cair," tambahnya.

Gati menambahkan, dalam implementasi Santripreneur, Kemenperin memiliki dua model penumbuhan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di pondok pesantren, yaitu model Santri Berindustri dan Santri Berkreasi. Sedangkan, model Santri Berkreasi merupakan program kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri maupun alumni yang terpilih dari beberapa pondok peantren untuk menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi dan multimedia sesuai standar industri saat ini.

"Langkah ini diharapkan mendorong unit industri tersebut menjadi tempat magang para sumber daya manusia di lingkungan pesantren," ungkapnya.


"Saya berharap sinergi yang dibangun antara Kementerian Perindustrian, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi serta Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan ini dapat meningkatkan jumlah wirausaha industri baru dan berkontribusi mengembangkan pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren yang pada akhirnya berdampak positif terhadap ekonomi nasional."jelasnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, Bapak K.H. Masyukur Wardi, menyambut baik pelaksanaan program Santripreneur yang diinisiasi oleh Kemenperin, karena dapat menambah kegiatan positif bagi para santri di lingkungan pondok. Selain itu, melalui usaha para santri nanti, diharapkan dapat berguna bagi masyarakat dalam menumbuhkan perekonomian daerah setempat seperti penyerapan tenaga kerja.

"Kami ucapkan terima kasih atas bantuan dan bimbingan dari Kementerian Perindustrian. Ini diharapkan bisa menjadi ilmu kelak nanti para santri lulus mondok," tambahnya.

Pondok Pesantren yang memiliki 1.700 santri ini juga memiliki unit usaha berupa Batik dan Pengolahan Sari Buah yang dihasilkan para santri di lingkungan pesantren.

Terpisah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik kegiatan yang digelar oleh Kementerian Perindustrian untuk para santri di Banyuwangi. Diakui Anas, Banyuwangi merupakan basis pondok pesantren. Sangat tepat sekali kegiatan bimbingan dan pemberian bantuan langsung kepada santri.

Banyuwangi sendiri, kata Anas, telah melakukan berbagai kegiatan untuk para santri. Diantaranya adalah ajang Santripreneurship, dimana Banyuwangi ingin mencetak para santri sebagai wirausahawan yang sukses.

"Kami gelar kegiatan ini agar para santri menjadi sukses kelak nanti lulus mondok. Selanjutnya mereka akan jadi pengusaha dan sukses dalam berkarier dan beribadah," tambahnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com