detikNews
Selasa 24 September 2019, 07:50 WIB

870 Kasus DBD di Tulungagung Selama 9 Bulan, 14 Meninggal

Adhar Muttaqin - detikNews
870 Kasus DBD di Tulungagung Selama 9 Bulan, 14 Meninggal Kasi Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Tulungagung, Didik Eka/Foto file: Adhar Muttaqin
Tulungagung - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Tulungagung selama 9 bulan telah menyerang 870 warga. Dari jumlah itu, 14 di antaranya meninggal dunia.

Kasi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Tulungagung, Didik Eka, mengatakan angka tertinggi serangan DBD terjadi pada bulan Januari yang mencapai 257 kasus.

"Dari 870 kasus itu 14 di antaranya meninggal dunia. Sedangkan kalau melihat trendnya, untuk saat ini menurun, pada bulan September ini hanya terjadi dua kasus," kata Didik Eka, Senin (23/9/2019).

Secara rinci Didik menyebut rincian kasus DBD selama 9 bulan terakhir adalah Januari 257 kasus, Februari 221, Maret 159, April 91, Mei 56, Juni 57, Juli 22, Agustus 5, September 2 kasus.

Dari catatan Dinkes Tulungagung, beberapa kecamatan yang menjadi endemis DBD di antaranya Kecamatan Ngantru, Tulungagung, Kedungwaru, Sumbergempol dan Kecamatan Boyolangu.


"Untuk wilayah kota seperti Tulungagung serta Kedungwaru erat kaitannya dengan kepadatan jumlah penduduk. Sehingga berpengaruh terhadap pola hidup bersih serta kondisi lingkungan," ujarnya.

Sedangkan di Kecamatan Boyolangu dipengaruhi banyaknya kolam yang digunakan untuk usaha budidaya ikan. Selain itu kondisi cuaca juga sangat berpengaruh terhadap proses perkembangbiakan nyamuk.

"Kalau intensitas curah hujan tinggi, biasanya kasus demam berdarah itu cenderung rendah. Tapi kalau hujannya tidak menentu, misalkan sehari hujan dan tiga hari cerah, itu justru tinggi, karena telur gampang menetas," katanya.

Dia menambahkan, menjelang datangnya musim penghujan menjadi salah saat yang tepat untuk mengantisipasi munculnya nyamuk demam berdarah, dengan melakukan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

"Perlu kita ketahui telur nyamuk pembawa demam berdarah itu bisa bertahan selama enam bulan pada saat kering. Artinya ketika telur itu di bejana kemudian kering, enam bulan berikutnya turun hujan, maka telur itu bisa menetas," ujarnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman demen berdarah tersebut. Ia mengaku telah menggerakkan jajaran puskesmas di seluruh Tulungagung untuk memberikan instruksi kepada masing-masing desa guna melakukan gerakan PSN.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com