detikNews
Jumat 13 September 2019, 18:11 WIB

Ini Hasil Evaluasi Dinkes Mojokerto Soal Puskesmas Beri Salep Kedaluwarsa

Enggran Eko Budianto - detikNews
Ini Hasil Evaluasi Dinkes Mojokerto Soal Puskesmas Beri Salep Kedaluwarsa Foto file: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto mengevaluasi manajemen obat-obatan di Puskesmas Jetis pascaadanya pasien yang menerima salep kedaluwarsa. Mereka menilai kasus ini terjadi akibat adanya pelanggaran prosedur pengelolaan obat di puskesmas tersebut.

Kepala Dinkes (Kadinkes) Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin mengatakan, pihaknya telah menerjunkan tim dari Seksi Kefarmasian untuk mengevaluasi pengelolaan obat di Puskesmas Jetis. Tim tersebut sekaligus menelusuri penyebab salep kedaluwarsa masih ada di apotek puskesmas dan sampai ke tangan pasien.

"Itu terjadi karena keteledoran atau kurang telitinya petugas apotek Puskesmas Jetis dalam mengelola obat sehingga terselip salep kedaluwarsa. Dari 10 salep yang ada, 3 di antaranya kedaluwarsa," kata Didik saat dihubungi detikcom, Jumat (13/9/2019).


Ia menjelaskan, selama ini distribusi obat ke seluruh puskesmas di Kabupaten Mojokerto sudah melalui prosedur yang ketat. Saat pasokan obat dari gudang farmasi milik Dinkes tiba di puskesmas, petugas apotek wajib mencatat tanggal kedaluwarsa dan kode batch masing-masing obat.

Hal itu untuk memudahkan mengontrol obat-obatan yang sudah expired. Setiap obat yang sudah tak layak pakai karena kedaluwarsa wajib dikembalikan ke Dinkes Kabupaten Mojokerto untuk dimusnahkan.

Salep kedaluwarsa yang diserahkan ke pasien/Salep kedaluwarsa yang diserahkan ke pasien/ Foto: Enggran Eko Budianto

"Kalau prosedur itu dilaksanakan dengan kerapian pencatatan dan penyimpanan, seharusnya tidak sampai ada obat kedaluwarsa. Masih adanya obat kedaluwarsa, apalagi sampai ke pasien, artinya petugas apotek melanggar SOP (standard operating procedure)," terangnya.

Didik juga menyayangkan sikap petugas apotek Puskesmas Jetis yang tidak langsung mengganti salep kedaluwarsa saat pasien melakukan komplain. Oknum apoteker tersebut justru menyuruh pasien menggunakan salep tidak layak pakai. Oleh sebab itu, pihaknya mengaku telah memerintahkan Kepala Puskesmas Jetis dr Dadang Hendryanto untuk membina si apoteker.


"Kepala Puskesmas sudah kami perintahkan untuk menegur dan melakukan pembinaan. Kasus ini juga menjadi pembelajaran bagi puskesmas yang lain supaya tidak sampai teledor dalam mengelola obat-obatan," tandasnya.

Salep Kedaluwarsa itu salah satunya diterima Suher Wati (33), warga Dusun Sumberwuluh, Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis. Dia mendapatkan 2 salep merk Salep 2-4 dari petugas apotek Puskesmas Jetis saat mengantar berobat dua anaknya yang terkena gatal-gatal di sekujur tubuh, Rabu (11/9) sekitar pukul 09.00 WIB.

Sebelum meninggalkan puskesmas, dia lebih dulu mengecek salep tersebut. Saat itulah dia mengetahui salep sudah expired sejak September 2018. Wati pun langsung menyampaikan salep kedaluwarsa itu ke petugas apotek Puskesmas Jetis. Bukannya memberi ganti dengan salep yang baru, si petugas justru menyuruh Wati menggunakan salep tersebut dengan mengoleskan tipis-tipis ke kulit kedua anaknya.

Kepala Puskesmas Jetis dr Dadang Hendryanto bersama oknum petugas apotek baru mendatangi rumah Wati setelah persoalan ini mencuat ke publik. Dia menarik salep kedaluwarsa dan menggantinya dengan yang baru. Beruntung salep tak layak pakai itu tidak digunakan sama sekali oleh Wati.


Simak juga video "Kasus Paman Bopong Jenazah Ponakan, Dinkes Tangerang Minta Maaf" :

[Gambas:Video 20detik]


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com