Psikolog Sosial Sebut Hukuman Kebiri Timbulkan Dendam Berkepanjangan

Amir Baihaqi - detikNews
Senin, 26 Agu 2019 21:37 WIB
M Aris, si predator anak (baju kotak-kotak/ Foto: Enggran Eko Budianto/File
Surabaya - Pengamat psikologi sosial menilai putusan hukuman kebiri pada predator anak, Muhammad Aris kurang tepat. Sebab, selain tidak akan memberikan efek jera juga dikhawatirkan menimbulkan persoalan lain ke depannya.

"Sebenarnya kebiri kimia hanya menghentikan dampak pada kemampuan seksualitas. Artinya mereka tidak akan mampu untuk ereksi atau penestrasi jadi itu sebabnya dari sisi medis itu tidak membahayakan. Tetapi dalam konteks psikologis itu bisa membuat dendam berkepanjangan. Jadi malah akan menimbulkan dendam," kata Psikolog sosial Andik Matulessy kepada detikcom, Senin (26/8/2019).

"Karena salah satu keberfungsian manusia itu kan kemampuan bereproduksi. Pada saat dia tidak mampu atau dipaksa bereproduksi tentunya kan dia akan punya perasaan tidak lagi sebagai manusia yang utuh," tambah alumnus Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.


Menurut Andik, ada dua dampak psikologis yang akan ditimbulkan pada sang predator jika hukuman kebiri dilaksanakan. Dua dampak itu yakni dari sisi pasif yang bisa membuatnya bunuh diri dan aktif atau akan berpotensi mencelakai orang lain karena dendam setelah bebas nanti.

"Dampak psikologis ada 2, di satu sisi pasif bisa saja dia menganggapnya sebagai sebuah masalah yang berat sehingga bisa bunuh diri, itu secara pasif. Di sisi lain secara aktif bisa saja dia akan dendam kepada siapapun yang dianggap dia menimbulkan seperti itu (dikebiri)," tutur Andik.

"Jadi misalnya dia bisa saja dihukum 16 tahun dengan dikebiri itu nanti setelah dia dibebaskan tidak kemudian bisa menuntas atau efek deterrence (efek jera) tidak ada efek kapok. Malah dia akan dia akan berprilaku lebih sadis misalnya membunuh dan sebagainya. Terutama pada anak-anak yang dianggap sebagai sumber dari mal fungsinya (alat reproduksi) dia," imbuh pria kelahiran Bojonegoro itu.

Andik kemudian membandingkan di sejumlah negara maju yang jarang memakai metode hukuman kebiri. Namun sebagai efek jera biasanya di negara-negara lain memberikan hukukan mati atau memberikan label predator anak pada mantan pelaku sebagai sanksi atau isolasi sosial.

"Kalau di beberapa negara maju itu ada dua pilihan, dia dihukum mati atau seumur hidup. Atau diberikan label di identitasnya sehingga orang akan hati-hati pada saat ada dia. Jadi dia seakan diisolasi secara sosial. Ada cap bahwa dia seperti itu," beber mantan Wakil Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya itu.


Untuk itu, Andik menyarankan agar mengadopsi metode hukuman yang dipakai pada negara-negara maju. Sebab hal itu akan menghindarkan potensi masalah di kemudian hari juga dinilai akan memberikan efek jera.

"Sekarang maunya hukum seperti apa. Mau memberikan efek jera yang paling efektif ya hukuman mati. Kalau sampai membuat anak itu meninggal. Tapi kalau tidak sampai meninggal ya diberi cap ID yang dia semua orang pasti tahu bahwa dia seperti itu," imbau Andik.

"Jadi sebenarnya, menurut saya, kebiri secara kimia itu tidak efektif. Juga tidak akan memberikan efek pada sosial. Karena kan reproduksinya. Alat yang lain kan masih berfungsi. Misalnya kemampuan dia mencelakai orang lain membunuh orang lain itu kan masih ada," tandas Andik. (iwd/iwd)