detikNews
Sabtu 24 Agustus 2019, 12:25 WIB

Ini Motif Penganiayaan yang Tewaskan Santri di Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Ini Motif Penganiayaan yang Tewaskan Santri di Mojokerto Foto file: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Seorang santri Ponpes Mambaul Ulum di Mojokerto tewas setelah dianiaya seniornya sendiri. Korban dianiaya karena kerap keluar lingkungan pesantren tanpa izin.

Ari Rivaldo (16) tewas di tangan seniornya berinisial WN (17), asal Kecamatan Pacet, Mojokerto. Sebagai santri senior di Ponpes Mambaul Ulum, Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, WN diberi kewenangan untuk mengawasi ketertiban para santri junior.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Muhammad Solikhin Fery mengatakan, WN menganiaya Ari karena kesal korban kerap keluar dari lingkungan pesantren tanpa izin.

"Motifnya karena kesal saja korban sering keluar pondok tanpa izin," kata KASAT saat dihubungi detikcom, Sabtu (24/8/2019).


WN lantas melampiaskan kekesalannya itu pada Senin (19/8). Terlebih lagi, hari itu Ari kembali keluar dari lingkungan pesantren tanpa izin sampai pukul 16.30 WIB. Sekitar pukul 23.00 WIB, pelaku mendatangi korban di kamar asramanya.

"Saat itu pelaku niatnya ingin menghukum korban," terang Fery.

Di dalam kamar asrama Ari, WN menendang kepala korban dua kali. Kepala santri asal Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo, itu pun membentur dinding asrama.

Akibatnya, Ari terluka parah di kepala belakangnya. Korban akhirnya tewas saat dirawat di RSI Sakinah, Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko pada Selasa (20/8) sekitar pukul 12.00 WIB. Benturan dengan dinding membuat tengkorak belakang korban pecah.


"Pelaku tidak berniat membunuh korban, makanya pasalnya penganiayaan tapi mengakibatkan korban meninggal. Karena niatnya (membunuh) tidak ada," tandas Fery.

Polisi telah menetapkan WN sebagai tersangka penganiayaan yang menewaskan Ari. Dia dijerat dengan Pasal 80 UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang Penganiayaan yang Mengakibatkan Korbannya Tewas.

Sementara Pengurus Pondok Putra PP Mambaul Ulum Mahfuddin Akbar menjelaskan, sebelum dianiaya, Ari tidak masuk sekolah lantaran kelelahan usai mengikuti lomba gerak jalan, Minggu (18/8). Saat didatangi WN di kamarnya, Ari sedang tidur pulas.

"Saya tidak tahu hari itu dia (Ari) keluar pondok atau tidak. Yang pasti saat itu dia sedang tidur, lalu dibangunkan oleh WN," ungkapnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com