detikNews
Kamis 15 Agustus 2019, 20:55 WIB

Penahanan Tersangka Pencuri Tanah Uruk Milik Kejagung Dihadang Massa

Enggran Eko Budianto - detikNews
Penahanan Tersangka Pencuri Tanah Uruk Milik Kejagung Dihadang Massa Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto -

Penahanan tersangka kasus pencurian tanah uruk di lahan milik Kejaksaan Agung (Kejagung) RI sempat dihadang massa. Akibat perbuatan tersangka, Kejagung mengalami kerugian Rp 1,392 miliar.

Tersangka Sumardi (46), warga Desa/Kecamatan Puncu, Kediri diperiksa di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto sejak pukul 09.30 WIB. Proses penahanan terhadap Direktur CV Bumi Leuser Samudera ini sempat berjalan alot.

Pasalnya, puluhan orang yang ikut mengawalnya sempat melakukan penghadangan. Mobil tahanan yang sudah disiapkan di pintu samping kantor Kejari Mojokerto, dihadang dengan 2 mobil pendukung Sumardi. Praktis mobil tahanan yang sedianya untuk mengangkut tersangka ke Lapas Klas IIB Mojokerto, tidak bisa keluar.

Selain itu, puluhan massa pendukung Sumardi memadati halaman kantor Kejari Kabupaten Mojokerto di Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko. Sementara puluhan polisi berjaga di pintu masuk kantor kejaksaan. Penahanan tersangka juga dikawal sejumlah anggota TNI.

"Jangan sampai masyarakat dibuat main-main. Masyarakat juga bisa main-main," teriak Ahmad Rifai, salah seorang pendukung Sumardi yang menolak penahanan tersangka di halaman kantor Kejari Kabupaten Mojokerto, Kamis (15/8/2019).

Baru sekitar pukul 14.30 WIB, massa melunak. Tanpa memakai rompi tahanan, tersangka Sumardi digelandang ke mobil tahanan yang sudah menunggu di depan kantor Kejari Kabupaten Mojokerto. Dia langsung dibawa ke Lapas Klas IIB Mojokerto di Jalan Taman Siswa.

"Sudah, kami rela. Sementara ini mengikuti proses hukum yang ada. Jangan ada yang berbuat apapun," kata Rifai di hadapan puluhan anak buahnya.

Sumardi ditetapkan sebagai tersangka kasus pencurian tanah uruk di lahan milik Kejagung RI, Desa Gading, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto. Padahal lahan seluas 53 hektare itu sudah disahkan menjadi aset Kejagung berdasarkan beberapa putusan hukum.

Dibantu anak buahnya, dia mengangkut dan menjual 1.336 rit tanah uruk dari lahan tersebut mulai 12 Agustus sampai 16 September 2018. Setiap truk tanah uruk dijual Sumardi seharga Rp 120-170 ribu. Akibatnya, Kejagung RI mengalami kerugian Rp 1,392 miliar.

"Tersangka membawa batu dari lahan yang kepemilikannya diserahkan oleh Kementerian Keuangan ke Kejaksaan Agung," terang Kajari Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono.

Karena berkas penyidikan sudah lengkap (P21), maka Kejari Kabupaten Mojokerto menahan Sumardi. Kasus pencurian tanah uruk di lahan Kejagung RI ini akan segera disidangkan. Tersangka bakal didakwa dengan Pasal 362 juncto pasal 55 KUHP subsider Pasal 167 ayat (1) juncto pasal 55 KUHP.

"Tersangka kami tahan karena pasalnya sudah cukup kan," tandas Rudy.

Lahan 53 hektare tersebut disita menjadi aset negara terkait kasus korupsi Dana Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) untuk program bongkar ratoon dan rawat ratoon di Dinas Perkebunan Provinsi Jatim yang mengakibatkan kerugian negara Rp 12 miliar lebih pada 2009.

Terdapat 3 terpidana dalam kasus ini. Yaitu Rini Sukriswati PNS Dinas Perkebunan Jatim selaku pejabat pembuat komitmen (PPK), Makmun Rosyad selaku Ketua KUB Rosan Kencana, serta Wahyu Teguh Wiyono selaku Bendahara KUB Rosan Kencana.

Para terpidana itu terbukti bersalah mengalihkan dana PMUK untuk membangun pabrik gula di atas lahan yang terletak di Desa Gading. Melalui KUB Rosan Kencana Perkasa, lahan seluas 53 hektar itu dibeli dari para petani dengan dana hasil korupsi tersebut.

CV Bumi Leuser Samudera milik tersangka Sumardi ambil bagian untuk menguruk lahan seluas 53 hektar itu saat pabrik gula KUB Rosan Kencana Perkasa akan dibangun. Namun, setelah kasus korupsi tersebut mencuat, praktis proyek pembangunan pabrik dibatalkan.

Pekerjaan pengurukan pun belum sempat dibayar. Nilainya disebut-sebut mencapai Rp 21 miliar. Oleh sebab itu, Sumardi nekat mengeruk tanah uruk di lahan tersebut karena merasa menjadi miliknya yang belum dibayar.


(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com