detikNews
Senin 12 Agustus 2019, 18:18 WIB

Utang Pekerja Rusunawa Belum Dibayar, Pemilik Warung Pinjam Lintah Darat

Enggran Eko Budianto - detikNews
Utang Pekerja Rusunawa Belum Dibayar, Pemilik Warung Pinjam Lintah Darat Rusunawa di Kota Mojokerto/Foto file: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Para pekerja pembangunan rusunawa di Kota Mojokerto meninggalkan utang Rp 36 juta lebih di 3 warung dan 2 rumah kos. Akibatnya, ada pemilik warung yang terancam gulung tikar dan jatuh dalam pelukan lintah darat.

Suliono (49) tampak sedih saat ditemui detikcom di warung miliknya. Salah satunya karena penagih utang silih berganti datang ke tempatnya berjualan di utara gedung rusunawa, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

"Saya bingung ditagih utang oleh banyak orang. Sementara utang para pekerja rusunawa sampai hari ini belum dibayar," kata bapak satu anak ini sembari menunjukkan catatan utang yang kini menjeratnya, Senin (12/8/2019).

Suliono mengaku mempunyai utang ke beberapa orang mencapai Rp 18,6 juta. Uang pinjaman itu ia gunakan untuk memperbesar warung, belanja kopi dari sales, langganan tahu pong, serta belanja kebutuhan warung lainnya.

"Semuanya sudah menagih. Ada yang utang saudara, utang ke ibu-ibu PKK, sales kopi dan tahu pong dan lain-lain," ungkapnya.

Untuk membayar utang tersebut, Suliono hanya mengandalkan pelunasan dari para pekerja proyek rusunawa. Nilainya mencapai Rp 15.878.000.


Namun sampai saat ini, lanjut Suliono, belum ada seorang pun perwakilan dari kontraktor atau mandor proyek yang menemui dirinya. Jika utang para pekerja proyek tak kunjung dibayar, sepekan lagi warung miliknya akan gulung tikar.

"Kalau tidak dibayar terpaksa tutup karena tidak ada lagi untuk modal jualan. Sekarang bayar listrik saja tidak bisa, tagihannya Rp 200 ribu," terangnya.

Nasib yang sama dialami Susi Jayanti (37), pemilik warung nasi dan kopi di belakang sebelah utara rusunawa. Para pekerja proyek menunggak utang Rp 8,299 juta di warung miliknya.

Karena tak kunjung dibayar, kini Susi dikejar-kejar penagih utang. Agar tetap bisa berjualan, dia terpaksa meminjam dari rentenir Rp 1 juta. Dia harus mengangsur Rp 120 ribu per pekan sebanyak 10 kali angsuran.

"Semoga utang para pekerja proyek rusunawa segera dilunasi. Saya sudah ditagih terus oleh orang-orang yang meminjami saya," tegasnya.


Utang para pekerja pembangunan rusunawa juga menunggak di warung milik Agus Hartini, yakni mencapai Rp 9,646 juta. Selain itu, biaya sewa kamar kos juga belum dibayar. Nilainya Rp 1,4 juta di rumah kos Susio dan Rp 900 ribu di rumah kos milik Hari. Total tunggakan para pekerja proyek di 3 warung dan 2 rumah kos mencapai Rp 36,123 juta.

Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Mojokerto Hatta Amrulloh menjelaskan, Dinas Perumahaan dan Kawasan Permukiman telah menghubungi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek rusunawa Kementerian PUPR. Menurut dia, dalam waktu dekat pihak pimpinan proyek (pimpro) akan mengajak PT Mina Fajar Abadi dan mandor proyek untuk menemui para pemilik warung dan rumah kos.

"Mereka janji dalam waktu dekat akan menemui pemilik warung dan rumah kos untuk melunasi," jelasnya.

Di lain sisi, lanjut Hatta, pihaknya bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mojokerto sepakat memberikan batas waktu pelunasan sampai Kamis (15/8). Jika utang para pekerja tak juga dilunasi, maka pihaknya akan melalukan mediasi dengan memanggil PPK proyek, PT Mina Fajar Abadi, mandor proyek, serta para pemilik warung dan rumah kos pada Jumat (16/8).

"Supaya segera ada solusi. Karena kami dari Pemkot Mojokerto juga berusaha melindungi hak warga kami," pungkasnya.
(sun/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com