Kelemahan Tes Narkoba Bagi Calon Pengantin di Kota Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 30 Jul 2019 10:20 WIB
Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Tes narkoba bagi calon pengantin yang akan diterapkan di Kota Mojokerto ternyata belum sepenuhnya gratis. Tes menggunakan sampel urine juga mempunyai kelemahan. Sehingga bisa diakali oleh pasangan yang akan menikah agar tidak ketahuan telah menggunakan narkoba.

Seperti diketahui, zat psikotropika dari narkoba akan hilang dari urine seseorang hanya dalam hitungan hari. Inilah yang menjadi salah satu kelemahan tes narkoba menggunakan sampel urine.

Kelemahan ini berpotensi dimanfaatkan calon pengantin agar tidak terdeteksi usai mengonsumsi narkoba. Karena acara pernikahan biasanya direncanakan jauh-jauh hari, bisa saja calon pengantin berhenti sementara mengunakan narkoba menjelang tes urine.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Mojokerto AKBP Suharsi mengakui terdapat kelemahan pada tes urine untuk mendeteksi pengguna narkoba. Sayangnya dia enggan menyebutkan jangka waktu hilangnya zat psikotropika di dalam urine sejak seseorang berhenti menggunakan narkoba.

"Ini (jangka waktu hilangnya kandungan narkoba di dalam urine) tidak boleh disampaikan. Khawatirnya akan dijadikan modus," kata Suharsi kepada detikcom di kantornya, Jalan Raya Surodinawan, Selasa (30/7/2019).


Tes narkoba dengan sampel urine lazimnya menggunakan tes kit. Alat ini harus dibeli calon pengantin di apotek jika ingin mendapatkan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN) dari BNNK Mojokerto. Harganya pada kisaran Rp 80-100 ribu, atau Rp 160-200 ribu untuk sepasang calon pengantin.

Tes kit bisa untuk mendeteksi zat psikotropika di dalam sampel urine. Yaitu ganja, morfin, kokain, metamfetamin atau sabu, amfetamin atau ekstasi, serta benzodiazepam atau obat-obatan terlarang.

Kendati terdapat kelemahan pada tes urine, Suharsi berdalih pengguna narkoba masih bisa dideteksi melalui pemeriksaan fisik dan asesmen. Pemeriksaan fisik untuk mendeteksi gejala klinis pengguna narkoba.

Sementara asesmen merupakan proses wawancara untuk menggali riwayat penggunaan narkoba. Menurut dia, pasangan yang akan menikah bakal melalui ketiga proses tersebut jika tes narkoba resmi diterapkan bagi calon pengantin di Kota Onde-onde.

"Secara fisik masih kelihatan kalau pemakaian (narkoba) dalam waktu lama," terangnya.


Meski hasil tes urine negatif, kata Suharsi, pihaknya akan menyarankan calon pengantin mengikuti program rehabilitasi. Dengan catatan si calon pengantin mengaku telah mengonsumsi narkoba saat proses asesmen.

Terlebih lagi pengakuan itu ditunjang dengan pemeriksaan fisik calon pengantin yang menunjukkan gejala klinis sebagai pengguna narkoba. Tentunya rehabilitasi dilakukan setelah mereka menikah.

Namun jika tes urine calon pengantin negatif, dalam asesmen juga mereka menampik telah menggunakan narkoba, maka pihaknya tidak bisa memberikan saran rehabilitasi. Meskipun gejala klinis menunjukkan pasangan yang akan menikah tersebut pengguna narkoba.

"Pada prinsipnya pengguna narkoba seperti orang sakit. Kuncinya pada kesadaran pengguna tersebut ingin sembuh atau tidak. Semisal kami sudah menyarankan rehabilitasi, tapi yang bersangkutan tidak menjalani, maka tidak ada kekuatan hukum untuk memaksanya," jelasnya.

Bisa mengakali tes narkoba saat akan menikah, tambah Suharsi, bukan jaminan bagi para pengguna narkoba lolos dari jeratan hukum. Dia meyakini suatu saat para pengguna akan kedapatan menyimpan barang bukti narkoba.


"Ini menjadi bom waktu. Pengguna pastinya suata saat akan membawa narkoba. Jika tertangkap kena pasal 112 (UU RI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika) karena menguasai narkoba, akhirnya kena pidana," tandasnya.

Tes narkoba bagi calon pengantin di Kota Mojokerto baru sebatas rencana karena belum diterapkan. BNNK mengaku siap menjalankannya, tapi masih menunggu petunjuk teknis dari Kemenag. Sementara Kemenag Kota Mojokerto menunggu regulasi dari Kanwil Kemenag Jatim.

Tes ini digagas Kanwil Kemenag dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jatim untuk memberantas narkoba. Tes narkoba bagi calon pengantin baru akan disosialisasikan Agustus 2019. Rencananya, Kemenag akan menahan buku nikah pasangan pengantin yang enggan menjalani tes narkoba. (fat/fat)