Sejumlah Irigasi di Banyuwangi Masih Aktif Meski Musim Kemarau

Ardian Fanani - detikNews
Senin, 15 Jul 2019 13:00 WIB
Sekelompok anak menunjuk ke arah sungai di Banyuwangi/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Debit air sejumlah sungai di Banyuwangi mengalami penurunan karena musim kemarau. Meski begitu, debit tersebut masih cukup untuk mengairi irigasi yang dibutuhkan sektor pertanian di Kota Blambangan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Kabupaten Banyuwangi Guntur Priambodo mengatakan, debit air sejumlah sungai untuk irigasi mengalami penurunan. Namun masih bisa mencukupi kebutuhan irigasi pertanian hingga 30 persen, sesuai standar kemampuan.

Hingga saat ini, kata Guntur, kondisi irigasi di Dam besar seperti di Karangdoro, Kecamatan Tegalsari masih mencapai 11,5 meter kubik. Setidaknya masih bisa mengairi 16 ribu hektare sawah. Kemudian di Dam Blambangan, Kecamatan Srono, saat ini masih mencapai 6 ratus liter per detik, dengan kondisi normal saat musim hujan mencapai 3 ribu liter per detik.

"Irigasi desa yang kecil juga masih cukup, tambahan embung juga banyak membantu. Memang debitnya turun. Tapi Dam Blambangan masih bisa melayani 1500 hektare persawahan," ujarnya kepada wartawan, Senin (15/7/2019).


Menurut Guntur, pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan irigasi 30-50 persen dari total area persawahan seluas 65 ribu hektare di Banyuwangi. Terutama bagi persawahan yang menggantungkan tadah hujan.

"30 persen yang kewajiban kita di padi. Kemungkinan bisa sampai 50 persen," paparnya.

Ia menjelaskan, pola pertanian yang tepat sesuai ketentuan dari Dinas Pertanian sangat menentukan kecukupan irigasi. Seperti diketahui, jumlah pola tanam dibagi menjadi tiga jenis tiap tahunnya.

"Tiap tahun Dinas Pertanian menetapkan tiga musim. Pertama musim hujan, kemarau satu dan kemarau dua," imbuhnya.

Kondisi kemarau diprediksi berlangsung hingga Agustus dan September mendatang. Ia berharap petani bisa mematuhi aturan pola tanam yang tepat agar kebutuhan air bisa tercukupi.


"Puncaknya Agustusan, sampai September. Kemarin masih ada hujan di beberapa wilayah selama dua hari sangat membantu," imbuhya.

Kemudian Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan menambahkan, hingga saat ini pihaknya terus melakukan sosialisasi. Melalui petugas lapangan, dinas mensosialisasikan pola tanam yang tepat agar tidak gagal panen.

"Pola tanam masyarakat sudah diatur. Cuma yang melanggar masih banyak, terutama daerah Bangorejo, Purwoharjo, kalau dulu tanam kedelai, dan dipaksakan tanam padi, selain jeruk dan buah naga," katanya.

Pihaknya mengaku sudah membuat aturan pola tanam dari musim kemarau pertama dan kedua (MK1 dan 2). "Teman-teman di lapangan sudah menyampaikan, ada MK 1 dan MK 2," ujarnya.

Bila tetap memaksakan menanam padi, maka bisa menyebabkan masalah dalam pembagian air. "Kekeringan bisa karena tidak dapat jatah air, atau sesuai gilirannya tapi harus menunggu lebih lama," pungkasnya.

Simak Video "Belasan Pendaki di Gunung Lemongan Dievakuasi Karena Kelaparan"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/fat)