detikNews
Kamis 27 Juni 2019, 10:50 WIB

Peternak di Mojokerto Libur Sementara Pasca Harga Ayam Anjlok

Enggran Eko Budianto - detikNews
Peternak di Mojokerto Libur Sementara Pasca Harga Ayam Anjlok Peternakan Alfan yang sudah kosong sejak Mei lalu/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Untuk menghindari kerugian karena harga ayam anjlok, sejumlah peternak di Kabupaten Mojokerto memilih libur sementara. Mereka menunggu harga kembali stabil.

Saat ini, ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak Kabupaten Mojokerto hanya dihargai Rp 8 ribu per kg. Anjloknya harga jual membuat para peternak memilih berhenti berternak untuk sementara agar terhindar dari kerugian. Seperti yang dilakukan Alfan Wahyudiono (27), peternak ayam broiler di Dusun Pandan Kuning, Desa Pandan Krajan, Kecamatan Kemlagi. Ia terakhir kali memanen ayam di peternakannya pada pertengahan Mei 2019.

Dari 20 ribu ekor ayam yang ia pelihara dengan sistem kemitraan bersama perusahaan distributor, Alfan mendapatkan 39 ton LB. Karena sudah ada kontrak, maka ayam di peternakannya dibeli perusahaan dengan harga Rp 17 ribu per kg.

Di lain sisi, Alfan juga menambah jumlah ayam peliharaan hingga kisaran seribu ekor untuk mendongkrak keuntungannya. Saat panen, ia mendapatkan 1,5 ton LB dari tambahan populasi tersebut. Saat itu harga LB masih Rp 16 ribu per kg.


"Setelah Lebaran (awal Juni 2019), harga ayam hidup dari peternak anjlok menjadi Rp 8 ribu per kilogram. Sejak saat itu saya hentikan dulu ternak ayam supaya tidak rugi, menunggu sampai harga kembali normal," kata Alfan kepada wartawan di peternakan miliknya, Rabu (26/6/2019).

Oleh sebab itu, sampai hari ini kandang ayam Alfan tampak kosong tanpa seekor pun ayam di dalamnya. Hanya nampak beberapa pekerja membersihkan sisa-sisa sekam bercampur kotoran ayam di dalam kandang.

Anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak, lanjut Alfan, baru kali ini terjadi dalam waktu lama. Menurut dia, turunnya harga selama ini maksimal terjadi selama satu minggu. Setelah itu harga LB kembali normal di kisaran Rp 16-18 ribu per kg.

Kondisi ini membuat dia bertanya-tanya. Betapa tidak, saat ini harga daging ayam broiler di pasar-pasar Mojokerto masih tinggi, yaitu Rp 25.500 ribu per kg. Menurut Alfan, jika harga daging ayam di pasar Rp 25.500 per kg, seharusnya harga LB di peternak paling rendah Rp 13.500 per kg.

"Selisih harga sebanyak itu siapa saja oknum yang bermain. Biasanya selisih harga ayam di kandang Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu dengan harga daging ayam di pasar," tambahnya.


Hal serupa dilakukan Paser (47), peternak ayam broiler di Dusun Medowo, Desa Mojodowo, Kecamatan Kemlagi. Ia kini memilih memelihara 3 ribu ekor ayam di kandang miliknya. Itu pun sekadar untuk memenuhi kontrak kemintraan dengan perusahaan distributor ayam.

"Biasanya saya menambah populasi 500 ekor untuk saya jual mandiri. Karena saat ini harga ayam hidup cuma Rp 8 ribu per kilogram, saya hentikan dulu jalur mandiri supaya tidak rugi," ujarnya.

Paser menghentikan sementara ternak ayam secara mandiri karena ancaman kerugian sudah di depan mata. Berdasarkan kalkulasi yang dia lakukan, 500 ekor ayam membutuhkan biaya perawatan Rp 13 juta sampai Rp 14 juta. Perawatan tersebut mulai ayam berumur 1 hari sampai siap panen, yaitu umur 40 hari.

"Dari 500 ekor bibit ayam, saat panen menghasilkan 1 ton ayam. Dengan harga saat ini Rp 8 ribu per kilonya, hanya dapat uang Rp 8 juta. Kalau dipaksakan saya bisa rugi Rp 5 juta sampai Rp 6 juta," tandasnya.



Tonton video Penyiksaan Ayam di Peternakan Australia Terekam Kamera:

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Barang Impor Ilegal Miliaran Rupiah di Surabaya Dimusnahkan"
[Gambas:Video 20detik]

(sun/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com