detikNews
Selasa 25 Juni 2019, 08:33 WIB

Lima Desa di Mojokerto Langganan Krisis Air Bersih Saat Musim Kemarau

Enggran Eko Budianto - detikNews
Lima Desa di Mojokerto Langganan Krisis Air Bersih Saat Musim Kemarau 5 Desa di Mojokerto Langganan Krisis Air Bersih/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Kekeringan rutin melanda 5 desa di Kabupaten Mojokerto. Akibatnya, ribuan jiwa kesulitan air bersih. Pemerintah tak kunjung memberikan solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah tahunan ini.

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto Muhammad Zaini mengatakan, kelima desa langganan kekeringan adalah Desa Kunjorowesi, Manduro Manggung Gajah dan Kutogirang di Kecamatan Ngoro, serta Desa Dawarblandong dan Desa Simongagrok di Kecamatan Dawarblandong.

Ironisnya, tiga desa yang tiap tahun kekeringan di Kecamatan Ngoro terletak di lereng Gunung Penanggungan. Kekeringan selama musim kemarau tahun lalu mengakibatkan ribuan jiwa kesulitan air bersih. Terdiri dari 520 jiwa di Desa Kunjorowesi, masing-masing 750 jiwa di Desa Kutogirang dan Manduro Manggung Gajah.

"Di ketiga desa tersebut memang tidak ada sumber air. Saat musim penghujan warga mengandalkan tadah hujan, kalau kemarau kesulitan air bersih," kata Zaini saat dihubungi detikcom, Selasa (25/6/2019).

Persoalan krisis air bersih di lereng Gunung Penanggungan, lanjut Zaini, sampai saat ini belum sepenuhnya bisa diatasi. Pihaknya baru melakukan pipanisasi sekitar 12 Km dari mata air di Desa Duyung, Kecamatan Trawas ke Desa Kunjorowesi. Saluran pipa itu baru bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga Desa Kunjorowesi sejak Mei 2019.


"Untuk Desa Kutogirang dan Manduro Manggung Gajah, kalau terjadi krisis air besih akan kami kirim bantuan menggunakan tangki air," ujarnya.

Sementara krisis air bersih di Desa Dawarblandong dan Simongagrok, lanjut Zaini, juga akibat minimnya sumber mata air. Menurut dia, saat musim kemarau tiba, sumber-sumber air di kedua desa tersebut mengering. Seperti tahun lalu, kekeringan mengakibatkan 750 jiwa di Desa Dawarblandong dan 1.200 jiwa di Simongagrok kesulitan air bersih.

Krisis air bersih di kedua desa tersebut seharusnya bisa diatasi dengan adanya saluran PDAM. Sayangnya, menurut Zaini, warga enggan berlangganan air PDAM.

"Selama ini warga kan bergantung ke sumber air weslick, itu kan gratis. Sehingga saat diminta berlangganan ke PDAM, mereka tidak mau. Padahal tarif PDAM sudah sangat murah," terangnya.

Untuk menanggulangi dampak kekeringan, tambah Zaini, pihaknya menyiapkan anggaran Rp 100 juta. Anggaran tersebut nantinya akan digunakan untuk menyuplai air bersih ke desa-desa yang terdampak kekeringan.

"Nantinya kami MoU dengan PDAM, dengan anggaran itu PDAM yang nantinya melakukan distribusi air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan. Distribusi tetap menggunakan truk tangki air," tandasnya.




Tonton juga video India Dilanda Kekeringan:

[Gambas:Video 20detik]


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed