detikNews
Selasa 11 Juni 2019, 19:41 WIB

Personel Perhutani Disiagakan Antisipasi Kebakaran Hutan Akibat Balon Udara

Adhar Muttaqin - detikNews
Personel Perhutani Disiagakan Antisipasi Kebakaran Hutan Akibat Balon Udara Salah satu balon udara yang dibuat warga (Foto: Adhar Muttaqin)
Trenggalek - Perhutani di wilayah Kediri Selatan siaga. Puluhan personel dikerahkan mengantisipasi kebakaran hutan akibat balon udara saat perayaan lebaran ketupat.

Kepala Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan (KSKPH) Kediri Selatan, Andy Iswindarto, mengatakan jumlah personel Perhutani yang disiapkan sebanyak 50 orang serta 20 anggota LMDH. Mereka akan disebar di beberapa titik rawan kebakaran hutan maupun lahan.

"Beberapa titik rawan itu diantaranya di Gunung Kebo, Gunung Orak-arik dan Bukit Tunggangan. Kemudian di hutan pinus di wilayah Kampak," kata Andy, Selasa (11/6/2019).

Menurut Andi, wilayah Trenggalek sangat rawan terjadi karhutla, sebab sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perhutani. Selain itu kondisi musim kemarau juga semakin menambah tingkat kerentanan.


Dikatakan Andy, dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, keberadaan balon udara api tersebut telah mengakibatkan beberapa kejadian kebakaran lahan. Beruntung kejadian kebakaran tidak sampai merembet ke permukiman warga.

"Kenapa balon udara itu bisa berbahaya, karena saat mengudara masih ada api yang menyala dan terkadang saat jatuh apinya masih menyala. Tahun 2018 tiga ada kali kejadian kebakaran kahan ," ujarnya.

Andy mengaku telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk mencegah adanya peluncuran balon udara api. "Mari kita jaga bersama-sama hutan kita, jangan sampai terbakar," imbuhnya.

Sementara itu Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo Saputra menegaskan melarang keras warga menaikkan balon udara. Karena dapat membahayakan penerbangan pesawat hingga kebakaran.

"Balon udara yang dinaikkan tanpa tali bisa terbang tanpa kendali, baik arah maupun ketinggiannya. Dirjen Perhubungan Udara memastikan itu bisa membahayakan pesawat," ujarnya.

Keberadaan balon tersebut juga sangat rentan memicu kebakaran rumah penduduk maupun hutan serta lahan. Selain itu juga rawan menganggu jaringan listrik PLN.

"Kami kemarin sudah melakukan koordinasi dengan berbagai lintas instansi mulai dari Perhutani, PLN, pemerintah daerah serta beberapa instansi lain untuk menyikapi tradisi menaikkan balon udara saat kupatan," ujarnya.


Menurutnya, pihaknya telah memerintahkan kepada jajaran kepolisian di tingkat Polsek dan BKTM untuk melakukan tindakan persuasif dengan melarang masyarakat menaikkan balon udara.

"Sebagai gantinya, akan ada kegiatan festival balon udara yang aman di Stadion Menak Sopal. Dalam festival itu balon udara yang dinaikkan dikendalikan menggunakan tali dan ketinggiannya juga dilakukan pembatasan," katanya.

Pihaknya berharap masyarakat dapat mematuhi aturan larangan balon udara secara liar, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com