detikNews
Senin 03 Juni 2019, 13:41 WIB

Ngaku Jadi Korban Penipuan Hingga Rumah Disita, Dokter di Surabaya Lapor Polisi

Hilda Meilisa - detikNews
Ngaku Jadi Korban Penipuan Hingga Rumah Disita, Dokter di Surabaya Lapor Polisi Dokter dan istrinya menunjukkan surat laporan polisi (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya - Seorang dokter senior di salah satu Rumah Sakit (RS) di Surabaya, dr Budiyo Santoso melaporkan kejadian tidak menyenangkan yang dialaminya. Laporan ini dilayangkan ke Polda Jatim.

Kepada detikcom, Budi menceritakan kejadian saat keluarganya harus diusir dari rumahnya sendiri. Saat itu, sekitar 50-an lelaki berbadan kekar mendatangi rumahnya yang berlokasi di Residance Sudirman, Surabaya.

Kejadian ini terjadi pada malam hari. Sementara di rumah saat itu hanya ada istri, seorang anak kecil dan pembantunya. Budi mengatakan para pria itu langsung menarik dan memaksa istrinya, Sri Yekti untuk keluar meninggalkan rumah. Sri Yekti memilih untuk bertahan hingga tangannya terkilir karena dipaksa keluar.

"Istri saya cuma pakai daster, tidak pakai sandal saat keluar rumah. Ndak sempat bawa barang apa-apa karena dihalangi 50-an orang itu," kata Budi di Surabaya, Senin (3/6/2019).


Budi akhirnya memilih untuk tinggal sementara di warungnya. Namun, saat hendak kembali ke rumahnya, dia mendapat laporan tetangga jika setiap hari ada belasan truk yang mondar-mandir untuk mengambili barang di rumah yang beraset Rp 6 Miliar ini.

"Rumah saya sampai bersih ndak ada apa-apa lagi. Semua perabot, sertifikat-sertifikat sampai kendaraan juga diangkut," lanjutnya.

Sementara saat mengusir, Budi mengaku para oknum ini berbekal surat kuasa jika rumah tersebut sudah milik orang lain yang bernama Arman Arifin. Budi pun awalnya kaget bagaimana bisa rumahnya tiba-tiba menjadi milik orang lain.

Dari hal ini, Budi menyadari jika dirinya telah ditipu saat melakukan pinjaman ke Arman. Saat itu, Budi berniat membantu tetangga yang membutuhkan uang Rp 600 juta dengan menjual tanahnya.

Kuasa hukum Budi, Muljo Hardijana mengatakan Budi yang ingin membantu akhirnya berusaha mencari pinjaman. Akhirnya, ada informasi dari teman yang menyebut seorang bernama Arman mau meminjami.

Arman menyanggupi akan memberikan pinjaman sebesar Rp 1 miliar dan meminta Budi menandatangani sejumlah surat di salah satu RM di Jalan Sumatra. Namun, Budi ditipu, surat yang ditandatangani bukanlah surat pinjaman, tetapi surat jual beli rumah.

"Pak dokter ini awam di bidang hal pinjam meminjam. Dia disodori surat yang berisi jual beli rumah, istrinya sempat mempertanyakan tapi Arman bilang surat tersebut hanya formalitas saja karena dirinya bukan bank simpan pinjam," kata Muljo.

Bahkan dalam surat tersebut ditulis dokter telah menerima Rp 2 miliar. Istri Budi pun kembali mempertanyakan, namun Arman kembali menegaskan jika hal tersebut hanya formalitas.


Setelah itu, pinjaman ditransfer ke rekening dokter namun tidak sebesar Rp 1 miliar melainkan hany Rp 793 juta dengan alasan diskonto. Arman juga meminta dokter Budi membayar bunga sebesar lima persen atau Rp 50 juta setiap bulannya.

Sebelum mengusir keluarga dokter Budi, pihak Arman melalui kuasa hukumnya memberikan surat peringatan bahwa rumah tersebut sudah dialihkan kepemilikannya menjadi milik Arman sesuai surat jual beli. Mulyo pun sangat menyayangkan tindakan premanisme yang dilakukan pihak Arman.

"Kalau memang dokter salah, semua ada proses hukumnya, negara kita negara hukum yang menjunjung HAM bukan dengan cara korak seperti ini," tegasnya.

Sementara itu, Direskrimum Polda Jatim Kombes Gupuh Setiyono menyatakan kasus ini dalam proses penyidikan dan pihaknya akan segera memanggil pihak-pihak terkait dalam kasus ini.

"Masih dalam proses mbak. Masih kita sidik," pungkasnya.
(hil/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed