detikNews
Kamis 16 Mei 2019, 17:51 WIB

Kata Pakar Soal Hukuman untuk Pelaku Mutilasi Pasar Besar Malang

Muhammad Aminudin - detikNews
Kata Pakar Soal Hukuman untuk Pelaku Mutilasi Pasar Besar Malang Sugeng Santoso (jaket hitam)/Foto: Istimewa
Malang - Sugeng Santoso (49), pelaku mutilasi perempuan di Pasar Besar, Kota Malang, diduga mengalami gangguan jiwa. Jika benar demikian, bagaimana jeratan hukum atas perbuatannya. Apalagi, Sugeng mengaku jika memutilasi korban sudah dalam kondisi tak bernyawa.

Pakar hukum pidana Universitas Brawijaya Prija Djatmiko mengatakan, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah diatur bagaimana seseorang yang disangka melakukan tindak pidana, seperti yang diakui oleh Sugeng.

Berdasarkan pengakuan Sugeng, lanjut Prija, jeratan pasal yang diterapkan adalah Pasal 181 KUHP yang berbunyi 'Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya'.

"Dalam pasal itu, pelaku diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan. Artinya tidak bisa dilakukan penahanan. Jika mengacu kepada keterangan atau pengakuan terduga pelaku (Sugeng) kepada polisi," ujar Prija dihubungi detikcom, Kamis (16/5/2019).


Sebelumnya, Sugeng mengaku telah memutilasi perempuan yang baru sembilan hari dikenalnya itu, tiga hari setelah meninggal. Artinya, perbuatan Sugeng memungkinkan bisa terjerat Pasal 181 KUHP.

"Informasinya pelaku mengaku demikian. Memutilasi ketika korban sudah meninggal. Jika begitu, maka Pasal 181 KUHP yang diberlakukan seperti uraian dalam pasal tersebut," tegas Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini.

Menurut Prija, kepolisian harus mengungkap penyebab pasti kematian korban. Berdasarkan hasil otopsi dan penyelidikan di lokasi kejadian.

"Kuncinya polisi harus mengungkap penyebab kematian korban. Apakah meninggal karena dipenggal dengan memotong kepala korban atau penyebab lain yakni sakit, seperti pengakuan terduga pelaku (Sugeng)," beber Prija.

Namun berdasarkan informasi yang diterima Prija, bahwa kematian korban disebabkan oleh penyakit yang diderita. Hal itu merujuk dari hasil otopsi dokter forensik. "Kalau informasi yang saya terima, meninggal karena sakit paru-paru. Kebenarannya mungkin bisa ditanyakan ke polisi," tandasnya.

Menyinggung pada kondisi kejiwaan terduga pelaku (Sugeng), Prija memandang majelis hakim nanti akan memberikan keputusan, kemungkinan besar mengarahkan agar pelaku menjalani perawatan kejiwaan.

Karena seseorang dalam kondisi tersebut (gila), tak bisa mendapatkan vonis hukum. "Sesuai diatur dalam Pasal 44 KUHP, hakim pasti akan memutuskan untuk menjalani perawatan, karena penyakit yang dialami pelaku. Dengan catatan jika benar demikian kondisinya," tutur Prija.

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri menyatakan, akan mendatangkan psikiater untuk memeriksa kejiwaan Sugeng. Untuk saat ini, kata Asfuri, masih terlalu dini menyatakan jika terduga pelaku mutilasi tersebut mengalami gangguan mental.


"Kami mau datangkan psikiater untuk memeriksa kejiwaan terduga pelaku. Hasilnya apa kita tunggu saja, selain hasil otopsi untuk memastikan penyebab kematian korban, apakah benar meninggal karena sakit atau dibunuh oleh pelaku," ungkap Asfuri terpisah.

Kepada polisi usai diamankan, Sugeng mengaku baru mengenal dan bertemu korban sembilan hari sebelum potongan tubuhnya ditemukan di area parkir lantai 2 Pasar Besar, Kota Malang, Selasa (14/5/2019), siang.

Sugeng juga mengaku, korban dalam kondisi sakit kronis dan kemudian membawanya ke lokasi kejadian. Malam harinya, korban meninggal dunia. "Dan baru tiga hari setelahnya korban dimutilasi menggunakan gunting, dilakukan pelaku karena menjalankan pesan korban dan mendapatkan bisikan gaib," papar Asfuri.

Hari ini Sugeng dibawa ke lokasi kejadian bersamaan dengan identifikasi dilakukan oleh Tim Labfor Bareskrim Polri Cabang Surabaya.



Tonton juga video Polda Jatim Gelar Olah TKP Lanjutan Kasus Mutilasi di Malang:

[Gambas:Video 20detik]


(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed