DetikNews
Kamis 16 Mei 2019, 16:51 WIB

Keluarga Penyelenggara Pemilu di Jombang yang Meninggal Tolak Autopsi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Keluarga Penyelenggara Pemilu di Jombang yang Meninggal Tolak Autopsi Almarhum Sunarko/Foto: Istimewa
Jombang - Permintaan Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subiaanto-Sandiaga Uno mendesak autopsi terhadap anggota KPPS yang meninggal, tak sepenuhnya disambut baik oleh keluarga korban. Seperti di Jombang, keluarga penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal saat bertugas menolak untuk autopsi.

Ketua KPU Kabupaten Jombang Muhaimin Shofi mengatakan, terdapat 2 petugas penyelenggara Pemilu yang gugur saat menjalankan tugasnya. Mereka adalah Iqbal Aminudin, tenaga pendukung KPU Jombang asal Desa Sembung, Kecamatan Perak, serta Sunarko (45), anggota KPPS TPS 02 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Jombang.

Iqbal meninggal setelah ditabrak mobil di Jalan Raya Jatipelem, Kecamatan Diwek pada 8 April 2019 sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu dia dalam perjalanan pulang dari kantor KPU Jombang mengendarai sepeda motor Honda BeAt nopol S 4684 OF.


"Dia tenaga penunjang bagian logistik di KPU Jombang. Saat itu dia baru pulang dari menjalankan tugasnya. Karena menyiapkan Pemilu, sering kali lembur," kata Muhaimin saat dihubungi detikcom, Kamis (16/5/2019).

Sementara Sunarko meninggal setelah menuntaskan pemungutan dan penghitungan suara di TPS 02 Kelurahan Kepanjen. Dia terkena stroke dan sempat dirawat di RSUD Jombang. Sunarko meninggal 30 April 2019.

Muhaimin mengaku telah mengajukan santunan bagi Iqbal dan Sunarko ke KPU RI. Namun, sampai saat ini santunan tersebut belum diterima keluarga korban. "Turunnya kapan saya tidak tahu, saat ini belum," terangnya.

Keluarga Iqbal maupun Sunarko ternyata sejak awal menolak autopsi terhadap jenazah kedua korban. Ayah Iqbal, Ahmad Setiadi (49) telah membuat surat pernyataan yang berisi agar jenazah anaknya tidak diautopsi.


Begitu juga dengan istri Sunarko, Yuni Fanani. Menurut dia, suaminya meninggal akibat kelelahan dan darah tinggi saat bertugas di TPS 02 Kelurahan Kepanjen. Yuni juga telah membuat surat pernyataan menolak autopsi pada 14 Mei 2019.

"Saya menolak jenazah suami saya diautopsi," tegasnya.

Sementara Dokter Spesialis Syaraf RSUD Jombang dr Intan menjelaskan, Sunarko meninggal akibat stroke. Sehingga terjadi pendaraan pada otak korban.

"Hasil pemeriksaan juga CT scan, pasien Sunarko meninggal karena stroke pendarahan di otak yang cukup luas," tandasnya.
(bdh/bdh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed