Di Ponpes Ini Selawatan Lebih Semarak Diiringi Tabuhan Bedug

Charolin Pebrianti - detikNews
Kamis, 09 Mei 2019 04:23 WIB
Para santri sedang selawatan/Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Selain tarawih dan tadarus, selawatan merupakan salah satu amalan yang kerap dilakukan untuk mengisi Ramadhan. Di Pondok Pesantren Hudatul Muna, Kelurahan Jenes, Kecamatan Ponorogo, selawatan dilakukan dengan cara berbeda.

Di ponpes tersebut, para santri berselawat dengan diiringi tabuhan bedug. Dengan diiringi tabuhan bedug, selawatan tampak dan terdengar lebih semarak.

Namun ternyata tidak semua penabuh bedug bisa mengiringi selawatan. Sebab, ada ketukan tertentu yang harus dihapalkan.


"Ini bentuk menguri-uri (menjaga) tradisi. Tradisi selawatan usai melaksanakan ibadah tarawih," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Hudatul Muna, Gus Munir saat ditemui detikcom di lokasi, Rabu (8/5/2019).

Menurutnya, tradisi selawatan dengan bedug tersebut diperkenalkan Kyai Hasan Besari dari Tegal Sari. Ia merupakan salah satu penyebar agama Islam di Ponorogo. Selawatan tersebut berisi puji-pujian untuk para nabi.

"Berselawat dengan diiringi tabuhan bedug ini sebagai bentuk suka cita dalam menyambut bulan Ramadhan," imbuhnya.
Seorang santri menabuh bedug untuk mengiringi selawatanSeorang santri menabuh bedug untuk mengiringi selawatan Foto: Charolin Pebrianti
Namun sayangnya, tradisi tersebut mulai ditinggalkan. Pasalnya, tidak semua kiai hapal dengan pujian yang akan dirapalkan. Hanya imam yang belajar pada kiai jaman dulu saja yang paham.

"Kalau sekarang jarang, hanya di Jenes yang masih dilestarikan," tambahnya.


Selawatan ini pun, lanjut Gus Munir, hanya dilakukan usai melaksanakan salat tarawih di Bulan Ramadhan. Para santri berkumpul sembari membawa catatan isi selawatan yang isinya mengagungkan nama nabi dalam bahasa Jawa. Mereka duduk melingkar.

Kemudian salah satu santri yang terbiasa menabuh bedug langsung mengambil posisi di depan bedug. Saat santri lain berselawat, ia kemudian mengiringinya.

Meski sederhana, tradisi selawatan paling dinanti para santri. Sebab, saat selawatan mereka bisa menunjukkan rasa bahagianya Ramadhan.

"Setelah selawatan biasanya para santri mengaji," pungkasnya. (sun/bdh)