DetikNews
Jumat 26 April 2019, 16:27 WIB

Gagal Nyaleg Ketiga Kalinya, Tukang Pijat di Mojokerto Ini Tak Kapok

Enggran Eko Budianto - detikNews
Gagal Nyaleg Ketiga Kalinya, Tukang Pijat di Mojokerto Ini Tak Kapok Tukang Pijat Hasymi Munahar gagal nyaleg/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Hasymi Munahar (51), tidak menyesal meski gagal terpilih sebagai anggota DPRD Kota Mojokerto pada Pemilu 2019. Selain menjadi caleg adalah hobi bagi dirinya, tukang pijat keliling ini mengaku hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 8 juta untuk berkampanye.

"Saya yakin tidak terpilih. Karena perolehan suara saya sangat sedikit," kata Hasymi sembari tersenyum santai saat berbincang dengan detikcom di rumah kontrakannya, Perumahan Wikarsa, Desa Banjaragung, Puri, Kabupaten Mojokerto, Jumat (26/4/2019).

Pada Pileg tahun ini, Hasymi mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Mojokerto melalui partai PAN. Caleg nomor urut 5 ini bertarung di dapil Kecamatan Kranggan.

Bapak dua anak asal Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini mengisahkan perjuangannya mendulang suara di dapil tersebut. Pada masa kampanye yang lalu, dia mengaku rajin menyambangi calon pemilih.

"Tiap hari saya keliling selama masa kampanye, pagi dan sore. Dari pintu ke pintu, saya menawarkan jasa pijat sambil bagi-bagi stiker dan ngomongin program saya," ujarnya.


Untuk merebut hati para calon pemilih, Hasymi tak memasang tarif untuk jasa pijat yang dia berikan. Tak jarang masyarakat meminta dipijat Hasymi secara cuma-cuma.

"Ada yang minta gratis, ada yang bayar seikhlasnya, ada juga yang bayar penuh," terangnya.

Tak hanya itu, Hasymi juga memanfaatkan kemampuannya membuat pupuk untuk berkampanye. Dia membuat sendiri pupuk jenis NPK dan pupuk cair anti-hama. Pupuk cair tersebut dia olah menggunakan bahan kotoran kelinci, tembakau, jahe, kecubung, sambiloto, serta gadung.

Selama masa kampanye, Hasymi mengaku telah membagi-bagikan 4,5 kwintal pupuk NPK dan 288 botol pupuk cair anti hama. Setiap botol berisi 350 ml pupuk cair.

"Pertimbangan saya pupuk ini bisa bermanfaat bagi masyarakat. Ada yang senang, bahkan ada yang menolak karena mereka tak yakin dengan kualitas pupuk ini. Padahal kotoran kelinci mempunyai kandungan NPK organik tinggi, juga anti hama," ungkapnya.


Meski gagal terpilih sebagai anggota DPRD Kota Mojokerto, Hasymi mengaku tak menyesal. Salah satunya karena biaya kampanye yang dia keluarkan tergolong minim.

Untuk membuat pupuk NPK dan pupuk cair anti hama, Hasymi hanya menghabiskan biaya Rp 7 juta. Sementara untuk mencetak 800 stiker, dia hanya mengeluarkan uang sekitar Rp 1 juta.

"Saya tidak stres walupun gagal terpilih. Karena bagi saya nyaleg adalah hobi," tandasnya.

Wakil Bendahara DPD PAN Kota Mojokerto Wawan Setiyawan mengatakan, Hasymi hanya mendapat 51 suara di dapil II Kecamatan Kranggan. Suara itu paling banyak didapatkan Hasymi di Kelurahan Kranggan dan Miji, yaitu masing-masing 22 dan 20 suara.

Sementara caleg pesaingnya dari PAN di dapil yang sama, meraup suara jauh lebih tinggi dibandingkan Hasymi. Salah satu caleg meraih 1.429 suara. Ada juga yang mendapatkan 157 dan 148 suara.


"Mas Hasymi hanya dapat 51 suara di Kecamatan Kranggan," cetusnya.

Pencalonan Hasymi tahun ini menjadi yang ke tiga kalinya. Pada Pileg 2009, dia maju melalui Partai Matahari Bangsa di dapil Kecamatan Magersari. Sedangkan Pileg 2014 dia maju melalui Partai NasDem di dapil Kecamatan Prajurit Kulon. Namun, dua kali pencalonannya itu gagal.

Dua kali gagal di Pileg, tak membuat Hasymi patah semangat. Pria asal Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini akan terus mencalonkan diri sampai fisiknya tak lagi memungkinkan. Bagi Hasymi, nyaleg merupakan hobi.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed