DetikNews
Senin 22 April 2019, 17:17 WIB

Enam Parpol di Surabaya Duga Ada Penggelembungan Suara oleh PDIP

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Enam Parpol di Surabaya Duga Ada Penggelembungan Suara oleh PDIP Surat laporan pelanggaran Pemilu dari enam parpol ke Bawaslu Surabaya/Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Beberapa partai politik di Surabaya menduga ada kecurangan yang dilakukan PDIP dalam Pemilu 2019. PDIP diduga melakukan penggelembungan suara di banyak TPS di Surabaya.

Ada enam parpol yang melayangkan tuntutan ke Bawaslu Kota Surabaya untuk dilakukan penghitungan suara ulang. Enam partai tersebut yakni PKB, Gerindra, Hanura, PAN, PKS dan perwakilan caleg Golkar Abraham Sridjaja.

Ketua DPC Gerindra Surabaya BF Sutadi mengatakan pihaknya menemui beberapa pelanggaran. Antara lain ada penjumlahan suara yang salah hingga penggelembungan suara.


"Banyak ditemui pelanggaran Pemilu baik administrasi maupun pidana. Pelanggaran itu penggelembungan suara dengan penjumlahan suara," kata Sutadi saat dikonfirmasi di Surabaya, Senin (22/4/2019).

"Saking paniknya. 90 ditambah 1 depannya. Jadi 191. Itu kalau penggelembungan. Kedua, penarikan suara caleg ke suara partai. Ada yang kosong tidak ditandatangani tapi kosong. Ini cek kosong. Ada pengurangan. 36 jadi 6. Ini mungkin strategi menutup kanan kirinya. Yang bahaya TPS suaranya melebihi jumlah DPT. Kemudian melebihi pemilih yang hadir," imbuhnya.

Sutadi menambahkan, pihaknya membuat tuntutan itu lantaran tak ingin terjadi kecurangan lagi. Mereka berharap dilakukan penghitungan ulang.


"Kami gabung menuntut keadilan. Ini masalah mandat rakyat. Masalah suara rakyat. Tolonglah jangan main dengan hal itu," tambahnya.

Kemudian Ketua DPC PKB Musyafak Rouf melanjutkan, pihaknya memberi contoh jika terjadi penggelembungan suara oleh PDIP. "Kalau yang mengubah angka itu yang saya temukan itu banyak di PDIP Karena kelipatannya 10, 20, 30, 50 gitu ya," kata Musyafak.

Sementara saat menanggapi pernyataan PDIP yang menduga ada intervensi sejumlah parpol kepada Bawaslu Surabaya, Musyafak mengajak PDIP untuk sama-sama membuktikan kecurangan ini. "Silakan, itu hanya PDIP yang menanggapi begitu. Tapi kami tetap ingin Pemilu yang jurdil supaya menghasilkan pemimpin yang baik. Jadi persoalan teknis, saya ndak mengurusi teknis gitu gimana, kalau dia merasa dia yang dirugikan dalam hal ini ya mari kita buktikan, kita hitung bersama. Gitu lo," pungkasnya.
(sun/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed