DetikNews
Sabtu 23 Maret 2019, 10:59 WIB

Dear Mahasiswa Baru, Yuk Intip Biaya Hidup Kuliah di Surabaya

Hilda Meilisa - detikNews
Dear Mahasiswa Baru, Yuk Intip Biaya Hidup Kuliah di Surabaya Universitas Airlangga (Foto: Hilda Meilisa Rinanda/detikcom)
FOKUS BERITA: SNMPTN 2019
Surabaya - Kota Surabaya dipenuhi banyak universitas ternama. Tercatat, ada beberapa universitas negeri hingga swasta yang menjadi favorit. Misalnya saja Universitas Airlangga (Unair) hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS).

Lalu, berapa ya biaya hidup untuk kuliah di Surabaya?

Salah satu mahasiswa Ilmu Sejarah Unair Yuana mengatakan dalam sebulan dia bisa menghabiskan uang kurang dari Rp 2 juta. Biaya tersebut untuk sewa kos, makan, membeli buku, hingga nongkrong bersama teman-teman.

Kepada detikcom, mahasiswa asal Mojokerto ini mengaku cukup beruntung mendapat kamar kos yang harganya murah. Dia mengatakan kos nya dipatok Rp 700 ribu, namun, dia tinggal di kos bersama seorang temannya. Untuk itu, ibu kos hanya mematok tarif Rp 375 ribu untuk satu orang.

"Kosnya di Unair itu beda-beda kan, aku sendiri beruntungnya dapet murah sih Rp 375 berdua, sekamar. Kalau satu orang Rp 700-an," ungkap Yuana di Surabaya, Sabtu (23/3/2019).


Selain itu, Yuana mengaku biaya tersebut sudah termasuk listrik dan air. Bahkan, kamar kosnya juga menyediakan wifi. Hal ini diakui Yuana cukup membantu untuk mengirit biaya paket internet, terlebih untuk mengerjakan tugas. Dalam sebulan, dia hanya membeli paket internet senilai Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu saja.

Selain itu, Yuana mengatakan jarak kosnya dengan Unair juga tak terlampau jauh. Dia hanya perlu berjalan kaki kurang lebih tiga hingga lima menit.

"Kalau dari Unair bisa jalan kaki. Jadi aku dari pintu barat Unair kampus B masuk dari situ. Aku bisa jalan kaki, bisa naik motor. Paling ya tiga sampai lima menit ya kalau aku jalan kaki," katanya.

Sementara untuk biaya makan, Yuana mengaku dirinya memang boros lantaran selalu membeli makan di luar. Dia mengaku saat kuliah, jarang ada waktu untuk memasak.

Dalam sehari, Yuana mengaku bisa makan dua hingga tiga kali. Hal ini tergantung dari kondisinya. Sementara untuk harga makanannya, Yuana mengaku mematok makan dengan harga Rp 8 ribu hingga Rp 15 ribu.

"Kalau untuk makan, aku ndak pernah masak. Mesti beli. Rangenya dari Rp 8 ribu sampai Rp 15 ribu lah. Sehari dua kali aja sih, kadang ya tiga kali. Biaya makan ndak sampe lah Rp 50 ribu sehari, sekitar Rp 40-an lah," imbuhnya.

Yuana yang juga merupakan mahasiswa penerima beasiswa mengaku selama ini memang tak pernah membayar biaya kuliah. Namun, untuk biaya hidup, orang tua Yuana memberikan uang Rp 300 hingga Rp 400 ribu setiap minggunya. Selain untuk makan, Yuana juga mengatur agar uang cukup untuk foto kop dan membeli buku.

Meski jarang membawa motor ke kampus, Yuana mengaku pengeluaran untuk bensin juga cukup banyak. Lantaran setiap minggunya dia memilih untuk pulang ke Mojokerto.

Tak hanya itu, Yuana juga mengatakan uang dari orang tuanya kadang dipakainya untuk iuran di organisasi. Jika uangnya hampir habis, Yuana memilih untuk memasak mi instan sendiri di dapur kos.

Beda Yuana, beda pula dengan Andi Ramadhan. Mahasiswa FEB Unair ini mengatakan biaya hidupnya di atas Rp 3 juta. Andi mengaku mendapat kamar kos seharga Rp 600 ribu dengan fasilitas rata-rata.

Tak hanya itu, dia mengaku uang tersebut banyak habis untuk biaya nongkrong dengan teman. Terlebih di Surabaya, menurut Andi banyak kafe yang asyik untuk nongkrong. Namun, harganya juga cukup mahal.


"Seringnya sih emang buat ngopi ya, di kafe-kafe atau ngemal. Itu yang biasanya habis banyak," kata Andi.

Andi mengaku sering ke kafe karena tempatnya nyaman untuk mengerjakan tugas. Selain itu, biasanya di kafe juga menyediakan wifi.

Untuk biaya makan, Andi mengaku setiap hari memang rata-rata hanya makan dua kali. Namun, totalnya bisa mencapai Rp 100 ribu. Apalagi jika sudah masuk ke salah satu kafe.

"Tapi kalau sering-sering emang bikin boros sih. Kadang kita nyiasatinya sama ke warkop-warkop gitu, yang penting wifi cepet," ungkapnya.

Andi pun mengakui jika terkadang dirinya tidak memperhitungkan uang secara matang. Biasanya, saat awal bulan, dia suka kelepasan untuk membeli ini dan itu, namun saat akhir bulan, uang sakunya pun kian menipis.

"Biasanya akhir bulan itu yang ngenes. Cara hematnya ya gimana lagi kalau ndak makan mi instan," pungkas Andi.
(hil/iwd)
FOKUS BERITA: SNMPTN 2019
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed