DetikNews
Jumat 15 Maret 2019, 17:03 WIB

Keluarga Tajir di Jombang Protes Gara-gara Masih Terima PKH

Enggran Eko Budianto - detikNews
Keluarga Tajir di Jombang Protes Gara-gara Masih Terima PKH Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang - Jika kebanyakan keluarga berekonomi mampu diam saja meski masih menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), lain halnya dengan pasangan Muhammad Syamsudin (43) dan Kustianingsih (40).

Pasutri asal Dusun Karangmenjangan, Desa Karangwinongan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang ini justru protes karena masih menerima bantuan sosial dari negara.

Protes itu dilakukan Syamsudin melalui media sosial. Menggunakan akun facebook miliknya, Ageng Jombang, dia memposting persoalan yang membuatnya resah, Rabu (13/3) pukul 15.08 WIB.

"Terdaftar penerima PKH, tapi ga pernah dapat pencairannya. Kemana dananya?," tulis Syamsudin sembari menyertakan bukti nama istrinya yang terdaftar sebagai penerima PKH sejak April 2018.

Ditemui wartawan di rumahnya, Syamsudin mengakui postingan tersebut sengaja dia viralkan melalui medsos agar mendapatkan respons dari pemerintah. Dia mengaku telah meminta Pemerintah Desa maupun pendamping PKH di Karangwinongan menghapus nama istrinya di daftar penerima PKH sejak September 2018. Namun, sampai saat ini nama istrinya masih aktif sebagai penerima bansos dari negara.

"Saya tidak pernah mengajukan, tapi nama istri saya tiba-tiba muncul. Begitu saya datang ke kecamatan untuk verifikasi pada April 2018, saya tak dikasih pencairan. Katanya saya sudah mampu. Saya terima alasan itu, tapi kenapa nama istri saya masih muncul di situ. Lalu ke mana dana itu," kata Syamsudin kepada wartawan di rumahnya, Jumat (15/3/2019).

Syamsudin mendesak pemerintah agar segera menghapus nama istrinya dari daftar penerima PKH di Jombang. Karena dia merasa mampu secara ekonomi. Bahkan Syamsudin mempunyai rumah yang besar, serta mobil Toyota Fortuner, dan motor Yamaha Nmax.


Rumah milik pasutri tajirRumah milik pasutri tajir Foto: Enggran Eko Budianto

"Saya sendiri tak membutuhkan PKH itu. Alhamdulillah secara finansial sudah cukup semua. Saya kerja wiraswasta di Jakarta," tegasnya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang Moch Saleh membenarkan Kustianingsih masih terdaftar sebagai penerima PKH. "Bu Kustianingsih ini awalnya April 2018 saat dimulainya distribusi bansos BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), beliau salah satu peserta PKH," terangnya.

Kendati sempat viral di medsos, Saleh mengapresiasi protes yang dilakukan Syamsudin. Menurut dia, apa yang dilakukan suami Kustianingsih itu patut dicontoh oleh keluarga mampu lainnya yang sampai saat ini masih menjadi penerima PKH.

"Ini menjadi contoh bagi semua, yang merasa mampu untuk mundur dari peserta PKH, tidak harus nunggu dipaksa," ungkapnya.

Saleh menambahkan, persoalan keluarga Syamsudin telah dimusyawarahkan di tingkat desa, Kamis (14/3). Kustianingsih telah membuat surat pernyataan mundur dari peserta PKH. Dengan begitu, pihaknya tinggal melaporkan ke Kementerian Sosial untuk menghapus data Kustianingsih.

"Nantinya kartu PKH akan diserahkan ke BNI untuk dimatikan. Depositnya di kartu akan dikembalikan ke kas negara," tandasnya.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed