DetikNews
Selasa 12 Maret 2019, 14:27 WIB

Situs di Tengah Proyek Tol Pandaan-Malang Diberi Nama Sekaran

Muhammad Aminudin - detikNews
Situs di Tengah Proyek Tol Pandaan-Malang Diberi Nama Sekaran Situs yang ditemukan di tengah proyek Tol Pandaan-Malang dinamai Sekaran (Foto: Muhammad Aminudin)
Malang - Tim arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur mulai mengekskavasi situs di tengah proyek tol Pandaan-Malang. Bersamaan juga lokasi tempat situs itu ditemukan diberi nama.

Nama untuk situs itu adalah Sekaran. Pemberian nama itu mengacu pada nama dusun setempat.

Situs Sekaran ditemukan berupa susunan batu bata kuno beberapa waktu lalu di tengah pengerjaan tol. Lokasinya berada di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, atau km 37-700 ruas tol Pandaan-Malang.

Selain struktur batu bata kuno, di sekitar lokasi juga banyak ditemukan benda-benda cagar budaya lain. Di antaranya, uang gobog, beberapa barang berlapis emas, kaca benggala, dan benda kuno lainnya.


"Mengacu pada nama dusun, situs ini kami namai Sekaran. Ekskavasi baru mulai dilakukan. Ada yang menarik, melihat dari batu batanya, diduga dipasang dengan menggunakan cara gosok. Ukuran batu bata ini, tak sama dengan Trowulan, bisa jadi ini pra Majapahit. Tetapi lima hari ke depan setelah ekskavasi selesai, baru bisa menyampaikan hasilnya," terang arkeolog BPCB Wicaksono Dwi Nugroho ditemui di lokasi penggalian, Selasa (12/3/2019), siang

Tim berjumlah 11 orang yang terdiri dari arkeolog, mahasiswa, dan akademisi. Mereka menyisir lokasi situs. Penggalian di permukaan tanah bagian atas dilakukan. Harapannya, arkeolog mendapat petunjuk akan keberadaan situs yang diduga tertimbun tanah tersebut.

"Bagian dinding susunan batu bata yang terlihat mengarah ke barat daya. Kami ekskavasi mengikuti petunjuk itu saat ini," bebernya.

Untuk sementara diduga situs merupakan petirtaan atau saluran air. Namun, arkeolog terlalu dini untuk menyimpulkannya. Situs Sekaran berada di sisi barat center line ruas tol Pandaan-Malang.

Sebelah timur ruas tol mengalir sungai besar bernama Amprong, sementara sisi barat lahan pertanian dan pemukiman warga.


"Prakiraan ini mirip dengan petirtaan atau saluran air. Tapi lebih jelasnya, setelah ekskavasi selesai. Sebagian sudah rusak karena alat berat, jadi kita ekskavasi di sisi yang lain," terang Wicaksono.

Sejarahwan Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono sebelumnya datang ke lokasi, menduga bahwa situs yang ditemukan ditengah pengerjaan proyek merupakan peninggalan masa Majapahit. Dwi menduga tak jauh dari situs berdiri pemukiman kuno.

"Melihat struktur batu batanya ini diduga masa keemasan sampai akhir Majapahit. Sayang sekali, kondisi rusak karena aktivitas proyek tol," ujar Dwi saat itu.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed