Serunya Belajar Sejarah Majapahit Lewat Wayang Beber

Serunya Belajar Sejarah Majapahit Lewat Wayang Beber

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 01 Mar 2019 08:37 WIB
Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Siswa SMA di Mojokerto mempunyai cara yang asyik dan murah untuk mempelajari sejarah Majapahit. Yakni menggunakan Wayang Beber.

Wayang Beber merupakan seni wayang yang muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah-daerah tertentu. Salah satunya di Mojokerto.

Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran-lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh-tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana. Tokoh pewayangan dan jalan cerita dilukis pada kain tersebut. Saat pertunjukan, sang dalang berkisah sembari menunjuk lukisan menggunakan tongkat.

Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Kini Wayang Beber diadopsi dalam mata pelajaran seni rupa di SMAN 1 Pacet, Kabupaten Mojokerto.


Guru Seni Rupa Arif Setiawan mengatakan, wayang beber dinilai lebih murah dibandingkan dengan wayang lainnya. Untuk membuat satu gulungan wayang, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 200 ribu. Setiap gulungan sudah memuat 4 babak cerita pewayangan.

"Menggunakan wayang kulit jelas biayanya mahal, malah membebani siswa. Wayang beber itu jelas lebih terjangkau bagi siswa," kata Arif kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).

Arif mengaku, baru mengajarkan kesenian wayang beber ke siswa kelas XII dalam setahun terakhir. Karena membutuhkan keterampilan untuk membuatnya, maka kesenian ini diajarkan ke siswa sejak semester pertama.

Sebagai tahap awal, siswa diajari teknik melukis serta referensi wayang beber dari Pacitan dan Surakarta. Puncaknya para siswa diminta untuk menggelar pertunjukan.


Setiap tim dari siswa kebagian menjadi dalang, pengiring karawitan dan sinden. Pertunjukan wayang beber tersebut dinilai sebagai ujian praktik mata pelajaran seni rupa.

"Saya akan menilai kekompakan dan penampilan para siswa," imbuhnya.

Metode pembelajaran menggunakan wayang beber diakui membuat para siswa lebih mudah memahami sejarah maupun sastra terkait Majapahit. Namun tak bisa dipungkiri, sejumlah kesulitan dialami para siswa. Salah satunya melukis tokoh pewayangan.

"Saya dan teman-teman harus berimajinasi saat menggambar karakter orang jahat atau karakter tegas, itu yang susah," kata salah satu siswa. (sun/iwd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.