DetikNews
Rabu 27 Februari 2019, 16:23 WIB

Ekspor Produk Pertanian Jatim Sebulan Capai Rp 2 Triliun

Sugeng Harianto - detikNews
Ekspor Produk Pertanian Jatim Sebulan Capai Rp 2 Triliun Wagub Emil melepas ekspor produk hasil pertanian (Foto: Sugeng Harianto)
Ngawi - Sektor pertanian di Jatim menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) cukup signifikan. Dalam waktu sebulan pada Pebruari 2019 ini produk pertanian di Jatim yang diekspor mencapai Rp 2 triliun.

"Jumlah sertifikasi dan nilai ekspor yang hampir sama di bulan Januari 2018 dan 2019 meningkat luar biasa. Total nilai ekspor dari Jatim mencapai Rp 2 triliun," terang Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian Ali Jamil kepada wartawan usai Bimbingan Teknis Akselarasi Ekspor Komoditas Pertanian Tahun 2019 dan gerakan Agro Gemilang di Ngawi, Rabu (27/2/2019).

Ekspor komoditas pertanian senilai Rp 2 triliun itu, kata Ali, berasal dari 391 jenis komoditas di Jawa Timur. Produk pertanian itu diekspor menuju 82 tujuan negara ekspor setiap bulannya.

"Produk unggulan ekspor asal Jatim ini antara lain Crude Palm Oil (CPO), kopi, kayu, margarine, mente, cengkeh, lada, pala, dan nilam dengan total nilai Rp 1.559 triliun. Sementara untuk produk pertanian asal hewan yang menjadi unggulan ekspor Jatim adalah sarang burung walet, susu, bulu bebek dan ular hidup dengan total nilai hingga akhir Februari sebesar Rp 451,6 miliar," tuturnya.

Diungkapkan Ali, Jatim sendiri mempunyai peran yang cukup besar sebagai penyumbang 14,67% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Selain pertanian, Jatim juga memiliki komoditas produk sarang burung walet (SBW) yang menunjukan tren peningkatan baik tujuan negara maupun pelaku ekspornya.

Saat ini tercatat negara tujuan ekspornya dengan jumlah terbanyak adalah ke Cina. SBW juga diekspor ke 23 negara lainnya yakni Amerika, Hongkong, Vietnam, USA, Singapura, Taiwan, Malaysia, Kamboja, Kanada, Australia, Thailand, UK, Jepang, Filiphina, Perancis, Korsel, Spanyol, UEA, Belanda, Rusia, Denmark, New Zaeland, dan Brunei Darussalam.


Foto: Sugeng Harianto


"Jumlah eksportir sebanyak 338 baik perusahaan maupun perorangan, pelaku eksportir di Jawa Timur berjumlah 1.234 perusahaan. Masing-masing eksportir untuk komoditas asal tumbuhan berjumlah 896 yang 26 perusahaan di antaranya sudah menerapkan sistem inline inspection. Sedangkan eksportir untuk komoditas hewan dan produk hewan sejumlah 438 baik perusahaan maupun perseorangan," tandasnya.

Jamil menjelaskan selain melakukan digitalisasi layanan, dimana seluruh layanan perkarantinaan telah terintegrasi dengan sistem online yakni Indonesia Quarantine Full Automation System atau IQFAST, pihaknya juga telah menerapkan layanan perkarantinaan dengan jemput bola.

"Petugas kami lakukan pemeriksaan perkarantinaan di rumah kemasan atau layanan inline inspection. Dengan layanan ini, proses bisnis komoditas ekspor akan semakin cepat dan pada akhirnya diharapkan selain terjamin kesehatan dan keamanannya, produk juga akan memiliki daya saing yang lebih," tambahnya.

Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) melepas ekspor 13 produk pertanian ke 82 negara asal Jatim secara simbolis dari Ngawi. Ekspor dilepas oleh Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak. Selain Emil tampak pula Bupati Ngawi Budi Sulistyo (Kanang) serta Anggota DPR Komisi IV Ibnu Multazzam.

Wagub Emil sangat mendukung upaya Badan Karantina Pertanian (Barantan) untuk meningkatkan eksportir di Jawa Timur. "Kami sangat bangga dan mendukung selaku upaya peningkatan ekspor produk pertanian di Jawa Timur," ucap Emil.

Kegiatan ini juga sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian yang mewujudkan misi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045. Dengan agro gemilang diharapkan dapat meningkatkan jumlah pelaku usaha eksportir produk pertanian, khususnya asal generasi milenial.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed