DetikNews
Jumat 22 Februari 2019, 10:38 WIB

Peringati Hari Sampah Kampung Ini Rintis Bebas Narkoba

Suparno Nodhor - detikNews
Peringati Hari Sampah Kampung Ini Rintis Bebas Narkoba Foto: Suparno
Sidoarjo - Ada yang unik dari kampung RT 23 RW 07 Kelurahan Sekardangan, Kecamatan/Kabupaten Sidoarjo. Tempat yang sebelumnya dikenal sebagai Kampung Edukasi Sampah kini juga disebut Kampung Bebas Narkoba.

Ketua RT 23 Edi Priyanto mengatakan, inisiatif membentuk kampung bebas narkoba dilatarbelakangi maraknya penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun. Mulai dari pejabat publik, para artis, remaja bahkan anak-anak turut menjadi korban narkoba.

"Warga kami menyadari harus ada upaya dan langkah nyata untuk ikut serta dalam pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba dengan menginisiasi menjadikan lingkungan kami sebagai kampung bebas narkoba," kata Edi kepada detikcom, Jumat (22/2/2019).


Edi menambahkan, warga berkomitmen untuk menyatakan perang terhadap segala bentuk narkoba. Kampanye bahaya dan dampak buruk narkoba terus dilakukan untuk mengimbangi konten negatif di dunia maya yang bisa dengan mudah dikonsumsi oleh semua orang termasuk anak-anak atau generasi muda.

Menurutnya, peran keluarga penting dalam membantu pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba. Khususnya pada anak-anak usia remaja dengan rasa ingin tahu dan penasaran yang besar untuk merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan. Kampung itu sebelumnya telah dijadikan role model dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sistem keamanan lingkungan di Kabupaten Sidoarjo.

Kampung Edukasi Sampah telah menyediakan arena dan sarana permainan tradisional bagi anak-anak sejak dua tahun lalu. Meski tidak memiliki lahan khusus, namun para warga tidak kehabisan akal. Arena permainan tradisional tersebut dibuat di jalan blok paving yang berada di sekitar rumah warga.


"Beberapa permainan tradisional itu adalah gobak sodor, boi-boinan, berbagai jenis engklek (engklek kitiran, engklek pesawat, engklek rok, engklek gunung), permainan ular tangga, lapangan mini bulutangkis dan mini sepakbola," imbuh Edi.

Lebih lanjut Edi menjelaskan, awalnya pembuatan arena permainan tradisional dilatarbelakangi keprihatinannya atas maraknya penggunaan gadget secara berlebihan pada anak-anak. Tidak hanya membiasakan aktivitas fisik bagi anak namun juga sebagai sarana edukasi.

"Beberapa kegiatan positif yang dilakukan dalam keluarga maupun melalui lingkungan warga Kampung Edukasi Sampah diklaim dapat mengeliminir meluasnya peredaran dan pengaruh narkoba. Selain dengan edukasi dalam bentuk sosialisasi dan kampanye menggunakan beberapa media publikasi, penggalakan aktivitas fisik sekaligus interaksi sosial dengan permainan tradisional," jelas Edi.
(sun/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed