DetikNews
Minggu 17 Februari 2019, 08:27 WIB

Wanita Ini Rela Keluar dari Pekerjaan Demi Hobi Masa Kecilnya

Muhajir Arifin - detikNews
Wanita Ini Rela Keluar dari Pekerjaan Demi Hobi Masa Kecilnya Kerajinan rajut warga Pasuruan/Foto: Muhajir Arifin
Pasuruan - Tidak ada hasil yang mengkhianati proses. Barangkali itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kesuksesan Winarsih yang mengembangkan hobi masa kecilnya menjadi usaha. Dari usaha kerajinan rajut, ia meraup omzet Rp 30 juta setiap bulannya.

Kesuksesan yang diraih perempuan asal Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan itu bukan tanpa pengorbanan. Ia meninggalkan zona amannya sebagai karyawan demi cita-cita menjadi seorang pengusaha.

"Saya sebelumnya kerja di pabrik korek api di Kejapanan (Gempol) selama 15 tahun. Saya mengajukan mundur dari perusahaan dan bertekad memulai usaha," kata perempuan berusia 51 tahun saat berbincang dengan detikcom, Minggu (17/2/2019).

Berbekal uang tabungan selama belasan tahun menjadi karyawan, Winarsih merintis usaha kerajinan rajut pada tahun 2015. Usaha tersebut dia pilih berdasarkan hobi digemari.

"Sejak kecil saya suka merajut benang, hobi itu terus saya lakukan selama kerja di pabrik. Saya berpikir hobi saya bisa dikembangkan sebagai usaha," tambah Winarsih.


Meski sudah merajut sejak kecil, Winarsih tetap merasa haus ilmu. Ia pun mengikuti berbagai pelatihan yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pasuruan untuk memantabkan keahlian merajut.

Setelah mengikuti pelatihan dan berbagai lomba kreasi, Winarsih memulai usaha dengan keyakinan tinggi. Dibantu anak-anaknya, ia memulai membuat tas rajut. Hasil produksi awal dipakai sendiri dan keluarga.

"Dari situ banyak yang tanya. Tetangga dan teman-teman akhirnya beli. Akhirnya mulai dikenal dan banyak pesanan," ujarnya.

Wanita Ini Rela Keluar dari Pekerjaan Demi Hobi Masa KecilnyaFoto: Muhajir Arifin

Lambat laun usahanya berkembang. Winarsih kemudian memulai membuat taplak meja, sarung bantal, bunga rajut, sepatu, sandal, karpet, tempat lampu hingga partisi rumah. Pasar kerajinan rajut miliknya semakin meluas tidak hanya sebatas teman dan tetangga. Mulai dari Pusat Kerajinan Rajut Kaboki Sukorejo hingga para penjual tas.

Seiring perkembangan usaha, Winarsih memberdayakan para tetangga untuk membuat aneka kerajinan rajut. Ia mengajari mereka hingga bisa kemudian diberi bahan untuk dirajut sesuai pesanan. Mereka setor barang setengah jadi Winarsih.


Hingga saat ini, Winarsih sudah memberdayakan 25 tetangga dan 20 di antaranya bertugas di bagian produksi. Tiga orang di bagian finishing dan dua orang sebagai karyawan tetap yang mengelola galerinya.

"Saya membuka galeri kerajinan rajut di Taman Dayu," lanjutnya.

Winarsih menerima pesanan kerajinan rajut dari berbagai kota seperti Bali hingga Jakarta. Bahkan ia sudah beberapa kali mengekspor produknya ke Korea.

"Kalau pas ramai pesanan, bisa kewalahan. Harus nambah orang untuk produksi. Saya harap usaha ini terus berkembang sehingga semakin banyak yang bisa saya berdayakan. Saya dengan senang hati mengajari mereka yang ingin bisa merajut," katanya.

Winarsih juga membocorkan modal awal usahanya. Kini omzet yang ia raup setiap bulannya bisa dua hingga tiga kali lipat dari modal pertamanya.

"Modal awal waktu itu sekitar Rp 10 juta. Sekarang omset saya Rp 20 juta sampai Rp 30 juta sebulan," pungkas Winarsih.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed