"Banjir terjadi di Desa Banjaran Kecamatan Winongan, Desa Toyaning Kecamatan Rejoso dan Desa Kedawungkulon serta Kedengaran Kecamatan Grati," kata Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana, Rabu (13/2/2019).
Banjir di Desa Bandaran mencapai 20-30 cm merendam jalan desa dan sejumlah rumah. Banjir di ini akibat luapan Sungai Petung dan drainase tak memadai.
Sementara di Desa Toyaning, ketinggian air mencapai 30-40 cm. Di Dusun Krawan, Desa Kedawungwetan, banjir mencapai 40 cm.
Sedangkan di Dusun Kebrukan, Desa Kedawungkulon, lebih parah lagi setinggi mencapai 50 cm. Banjir di tiga desa ini akibat luapan Sungai Rejoso.
Dari pantauan detikcom di Desa Kedawungkulon banjir masih tinggi. Banjir merendam jalan desa dan rumah-rumah. Akibatnya aktivitas warga terganggu.
"(Banjir di Desa Kedawungkulon) ini lebih parah dari banjir kemarin (Selasa, 5/2)," kata Safitri, warga Desa Kedawungkulon.
Empat desa ini merupakan beberapa dari puluhan desa masuk peta rawan dan langganan banjir di Pasuruan. Banjir bisa terjadi berulang-ulang saat volume sungai naik akibat hujan lebat maupun air kiriman dari hulu.
Selain empat desa di atas, desa-desa dan kelurahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang melintasi wilayah Pasuruan juga kerap banjir saat musim hujan.
Antara lain desa-desa di Kecamatan Bangil, Beji dan Gempol yang dilintasi DAS Kedunglarangan, Wrati dan Manaruwi; desa-desa di Kecamatan Kraton dan Pohjentrek serta kelurahan di Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan yang dilintasi DAS Welang.
Sejumlah kelurahan di Kota Pasuruan yang dilewati DAS Gembong juga selalu terancam banjir. (fat/fat)











































