detikNews
Jumat 08 Februari 2019, 17:22 WIB

Terbelit Kasus Pidana Tak Kurangi Kekayaan Raja Sengon

Ardian Fanani - detikNews
Terbelit Kasus Pidana Tak Kurangi Kekayaan Raja Sengon Foto: Istimewa
Banyuwangi - Wahyu Widodo alias Raja Sengon Banyuwangi masih bergelut dengan kasus pengaduan dirinya atas dugaan pencemaran nama baik. Namun warga Desa Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar ini masih tetap kaya.

"Kalau hartanya ya Rp 2 miliar masih ada. Kalau ditotal dengan lahan dan mobil ya bisa lebih," ujar salah satu temannya yang tak mau disebutkan namanya kepada detikcom, Jumat (8/2/2019).

Namun dia mengakui, Wahyu Widodo tak sekaya dulu. Karena banyak diyakini banyak persaingan bisnis kayu sengon saat ini.

"Ya mungkin saat ini lagi lesu," tambahnya.

Pada pertemuan sebelumnya, Wahyu Widodo yang juga dijuluki pria tajir melintir ini mengklaim memiliki bisnis yang menggiurkan. Dia mengaku saat ini memiliki tanaman Sengon di wilayah Jawa.


"Saya masih berbisnis Sengon di Jawa. Kebun yang saya tanam ada di timur Jawa Barat hingga Banyuwangi," ujar Wahyu saat ditemui detikcom, di rumahnya di Muncar, Senin (2/7/2018).

Meski begitu, Wahyu enggan membeberkan jumlah pasti luasan lahan yang ditanami Pohon Sengon tersebut. Menurutnya, sebagian lahan yang ditanami Sengon merupakana lahan sewa.

"Lebih dari 300-an hektar. Tidak lah ndak usah ngomong itu. Pokoknya saya bisnis Sengon," tambahnya.

Selain Sengon, Wahyu mengaku juga mengandalkan sewa lahan untuk tower seluler bersama. Sewa lahan 5 tahun sekali itu juga menambah pundi-pundi kekayaannya.

Wahyu mengaku harta yang dimilikinya itu tidaklah harta warisan. Sebab dirinya berjuang sejak remaja. Wahyu mengaku harus menghidupi keluarganya sejak SD. Sepeninggal ayahnya saat dirinya berusia 3 tahun membuat dia gigih bekerja sambil bersekolah.


"Saya hanya lulusan SMP. Setelah itu bekerja seadanya. Mulai jualan balon, merantau ke Kalimantan, hingga jualan ikan asin saya lakoni. Asal halal untuk menghidupi keluarga besar saya dan ibu saya," tambahnya.

Selanjutnya nasibnya kembali meningkat saat dirinya berjualan besi tua. Sebelum krisis moneter tahun 1998 melanda, dirinya memborong besi tua. Saat dijual besi tua tersebut harganya menjadi 5 kali lipat dari harga yang dibelinya.

"Hasil dari itu yang saya belikan tanah dan kebun untuk menanam Sengon. Dan alhamdulilah sekarang menjadi seperti ini," kenangnya dengan raut muka sedih.

"Apa yang saya raih saat ini memang dipandang orang gampang. Tapi saya yang merasakan ini ya susah. Karena jatuh bangun saya rasakan saat itu," pungkasnya.
(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed