DetikNews
Jumat 11 Januari 2019, 15:15 WIB

Dinas Pendidikan: Pelajar yang Buang Bayi ke Kloset Boleh Ikut UN

Adhar Muttaqin - detikNews
Dinas Pendidikan: Pelajar yang Buang Bayi ke Kloset Boleh Ikut UN Lokasi kejadian (Foto: Adhar Muttaqin)
Tulungagung - Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim menyerahkan kasus pelajar yang membuang bayinya hingga tewas ke dalam kloset, ke polisi. Namun pelajar tersebut masih memiliki hak untuk mengikuti ujian nasional (UN).

"Kalau kami tinjau dari pidananya, dia memamg salah. Tapi kalau ditinjau dari sisi pendidikan kalau dia misal ditahan memang layaknya ditahan," kata Kadindik Jatim Saiful Rahman saat dihubungi detikcom, Jumat(11/1/2019).

Dijelaskan Saiful, untuk masa depan pelajar tersebut di dunia pendidikan, pelajar tersebut masih memiliki hak untuk mengikuti ujian nasional (UN).

"Tapi kalau kami pada prinsipnya adalah masa depan si anak (pelajar). Untuk masa depannya masih dibolehkan ikut UN meskipun ditahan. Karena dia sudah didaftar sebagai peserta UN," kata Saiful.

Saiful mengatakan kasus ini harus ditelusuri sebab moral yang membuat pelajar ini tidak berbuat baik.


"Kenapa moralnya seperti itu, harus ditelusri kenapa bisa seperti itu, dia harus mendapatkan pendampingan psikologi," ungkap Saiful.

Dalam kasus ini, dikatakan Saiful tidak harus saling menyalahkan baik itu, pihak sekolah maupun pihak orang tua.

"Kami bukan bela-membela, tapi dari lingkungan sekolah harus terus ada pengawasan kepada pelajar. Jangan sampai terulang seperti itu. Karena sekarang ini pergaulan bebas seperti itu. Orang tua harus mengawasi setiap perubahan anak-anaknya. Dengan begini tidak hanya sekolah saja disalahkan. Namun di sekolah itu hanya proses belajar mengajar saja. Selebihnya pergaulan ada lingkungan orangtua," jelas Saiful.

Saiful juga menjelaskan Bimbing Konseling di seluruh sekolah di Jatim sudah ditingkatkan. Tujuannya untuk menampung dan mendektesi persolan pelajar. Namun tidak semuanya dijelaskan secera detail oleh para pelajar.

"Di sekolah sudah ada guru BK untuk memberikan konseling. Namun terkadang ada siswa yang tidak menceritakan semuanya, jadi tidak semuanya terdekteksi," kata Saiful.


Tak hanya, itu pihaknya sudah membatasi soal penggunaan alat komunikasi atau gadget dalam lingkungan sekolah.

"Kami sudah ada aturan dalam pengunaan gadget dalam lingkungan sekolah. Handphone harus dalam kondisi silent setiap proses belajar mengajar. Tapi kembali lagi kejadian ini di luar sekolah," kata Saiful.

Terkait kasus di Tulungang dan Sidoarjo, Saiful mengimbau kepada seluruh pelajar, orang tua, dan pihak sekolahan untuk saling menjaga.

"Kasus-kasus ini ada pada moral. Harus saling memahami. Sebetulnya pihak sekolah sudah kami briefing dan sekolah sudah paham," tandas Saiful.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed