detikNews
Jumat 28 Desember 2018, 20:59 WIB

Kaleidoskop 2018

Ritual Pengobatan di Balik Kematian Ibu yang Digelonggong Air

Rahma Lillahi Sativa - detikNews
Ritual Pengobatan di Balik Kematian Ibu yang Digelonggong Air Foto: Adhar Muttaqin/File
Surabaya - Tragisnya nasib Tukiyem, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Trenggalek yang meninggal dunia setelah digelonggong air oleh keluarganya sendiri pada awal Maret silam.

Kematian nahas warga Dusun Jeruk Gulung, Desa Surenlor, Kecamatan Bendungan yang menghembuskan napas terakhir di usia 51 tahun itu dibuktikan dengan ditemukannya luka bekas kekerasan pada mulut serta organ dalam korban.

"Jadi bisa kami sampaikan ada kematian tidak wajar, dengan hasil autopsi aliran udara tertutup oleh air, ada kekerasan pada sekitar mulut, kemudian rongga paru-paru dan rongga dada terisi cairan air," ujar Kasatreskrim Polres Trenggalek AKP Sumi Andana.

Terkait kejadian ini, polisi mengamankan 7 orang yang kemudian juga ditetapkan sebagai tersangka.

"Ada anak kandung, menantu, adik ipar, keponakan," kata Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo Saputra.


Tragis Ibu di Trenggalek yang Tewas Digelonggong Air oleh KeluarganyaFoto: Adhar Muttaqin/File

Rinciannya adalah RA (anak kandung korban), JB (menantu), JMT (adik kandung), SYN (adik ipar), KTN (adik ipar), APL (keponakan) serta AP (keponakan). RA juga disangka berperan sentral dalam peristiwa yang terjadi pada Minggu (4/3) itu.

Namun beberapa hari kemudian, polisi mengamankan tiga tersangka baru. Ketiganya berinisial Y, R dan W, bahkan salah satunya diketahui merupakan suami korban. Sedangkan dua lainnya adalah kerabat.

Berkas penyidikan dipisah sesuai peran masing-masing. Pertama, RA berperan mengguyur korban dengan air, memasukkan selang dan ikan teri ke mulut korban; kemudian JB menduduki dan memegang kaki korban, sedangkan JMT menduduki perut korban.

Kemudian Andana menyebut, SYN berperan memegangi tangan korban, KTN memegang tangan kiri dan membuka mulut korban, APL menduduki kepala dan hidung korban, dan AP menyiramkan air selang pada saat posisi korban berdiri.

Tiga tersangka baru terdiri dari Y, R dan W. "Y, R dan W dijerat dengan pasal 531 KUHP. Ketiga tersangka mengetahui tindak kekerasan yang dilakukan para tersangka lain, namun mereka justru membiarkan dan tidak melakukan upaya pertolongan," urai Andana.


Didit juga menjelaskan bahwa peristiwa itu berawal dari sebuah ritual yang dilakukan pada hari Jumat (2/3). Berdasarkan keterangan tersangka, korban dan tersangka menggelar ritual atau syukuran untuk kesembuhan salah satu kerabat yang sakit. Mereka menyembelih 5 ayam dan memasak nasi kuning.

Kelengkapan ritual itu lantas disantap hingga hari kejadian. Tak disangka, di hari Minggu sore itu korban mengeluh sakit di dada dan perutnya. Ia keluar dari rumah, pergi ke halaman.

Tragis Ibu di Trenggalek yang Tewas Digelonggong Air oleh KeluarganyaFoto: Istimewa

RA kemudian berinisiatif melakukan pengobatan alternatif dengan menggelonggong ibunya. Ia juga memasukkan ikan teri ke mulut ibunya dengan harapan penyakit ibunya akan hilang.

"R (RA) memasukkan air melalui selang ke mulut korban. Juga menyumpal korban dengan kain dan memasukkan (ikan) teri ke mulut," ungkap Didit.

Alih-alih membaik, korban malah mengembuskan napas terakhir 30 menit usai 'pengobatan alternatif' itu. Korban kehabisan napas dan akhirnya meninggal.

Ironisnya, tetangga sebenarnya mengetahui aksi penggelonggongan yang dilakukan keluarga korban, sebab lokasinya hanya di halaman rumah korban. Namun mereka tak berani mendekat karena tersangka mengamuk dan seolah-olah kesurupan.

Bahkan menurut pengakuan salah satu tetangga korban, Katirin mengaku, para pelaku sempat mengalami kesurupan selama tiga hari berturut-turut sebelum kejadian.

"Selama tiga hari itu yang perempuan-perempuan itu kesurupan dan mengamuk. Pagi itu saya berangkat ke ladang, yang perempuan itu berjajar pakai mukena. Kemudian saat saya pulang semua sudah ndadi (kesurupan, red) di halaman," ungkap Katirin.


Tragis Ibu di Trenggalek yang Tewas Digelonggong Air oleh KeluarganyaLokasi penggelonggongan. (Foto: Adhar Muttaqin/File)

Bahkan pada saat kejadian, Katirin mengaku melihat Tukiyem diinjak-injak dan dinaiki oleh para pelaku di halaman rumahnya. Di dekat korban juga terlihat ada sebuah selang air yang mengalir.

Akhirnya sejumlah warga bersama, kepolisian, perangkat desa dan TNI mendatangi lokasi kejadian dan melakukan evakuasi.

"Pada saat kami datang bersama pak polisi itu, Tukiyem sudah meninggal dunia dan ditutupi pakai kain sarung dan kepalanya ditutupi kaos berlumpur. Kalau anggota keluarganya masih kesurupan saat kami datang," lanjutnya.


Kendati demikian, RS enggan disalahkan sebab ia menggelonggong ibunya dengan alasan pengobatan.

"Ibu saya mengeluh sakit perut dan dada, dia yang minta sendiri untuk diobati. Tujuan dimasukkan air dan ikan teri agar bisa sembuh dan penyakitnya keluar," aku RA.

RA menambahkan, aksi itu juga dilakukan secara spontan, tanpa diajari dan tanpa direncanakan. Ia pun tak menyangka ibunya bakal mengembuskan napas terakhir karena usahanya tersebut.

Namun ia menyesali perbuatannya. "Tidak ada (yang mengajari). Saya menyesal. Itu di luar kesadaran," jelas RA.

RA dan kesembilan anggota keluarganya yang lain kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka dijerat UU Penghapusan KDRT dan pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.



Simak juga video 'Misteri Penemuan Mayat dengan Mulut Dilakban di Cimahi':

[Gambas:Video 20detik]


(lll/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com