DetikNews
Jumat 28 Desember 2018, 10:13 WIB

Kaleidoskop 2018

Isu 'Orang Gila' Serang Ulama dan Ponpes dari Lamongan hingga Madiun

Rahma Lillahi Sativa - detikNews
Isu Orang Gila Serang Ulama dan Ponpes dari Lamongan hingga Madiun Foto: Eko Sudjarwo/File
Surabaya - Di pertengahan Februari, muncul isu penyerangan terhadap ulama dan pondok pesantren di Jawa Barat. Tak disangka, Jawa Timur pun ikut diterpa isu yang sama dengan adanya sejumlah kasus penyerangan ulama di sejumlah daerah. Bahkan satu di antaranya menjadi viral.

Isu penyerangan dimulai di Kabupaten Lamongan ketika seorang pria yang diduga mengalami gangguan jiwa menyerang KH Hakam Mubarok, pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Minggu (18/2/2018).

Menurut Kiai Hakam, pria ini diketahui sedang tidur di pendopo ponpes. Karena Kiai Hakam akan menunaikan salat zuhur di pendopo, pria ini pun dibangunkan.

"Itu waktunya salat Dzuhur. Karena ada pemandangan kurang bagus, saya perintah keluar. Jangan (tidur) di sini mau salat," kata Kiai Hakam melalui pernyataannya yang direkam melalui video dan diterima detikcom.

"Setelah saya suruh (bangun) nggak mau, saya seret sarungnya, masih nggak mau. Kemudian dia punya jajan, punya makanan, saya buang. Langsung dia berdiri dan menantang saya," ujarnya.

"Ayo saya berani gelut (berkelahi). Saya berani berkelahi. Nggak wedi karo awakmu (nggak takut dengan kamu)," lanjut Kiai Hakam menirukan pernyataan dari orang tak dikenal itu.


Drama Orang Gangguan Jiwa di Ponpes dari Lamongan hingga MadiunPria dengan gangguan jiwa yang masuk ke rumah Ketua MUI Madiun. (Foto: Sugeng Harianto/File)

Keduanya sempat beradu fisik namun tidak ada satupun dari mereka yang terkena pukulan.

"Saya nggak kena. Dia juga nggak kena. Akhirnya saya lari. Ternyata saya lari dikejar, kira-kira sekitar 300 meter dikejar terus. Saya sudah kehabisan nafas, akhirnya saya jatuh," tuturnya.

"Setelah saya jatuh, ada masyarakat mengatakan bahwa saya dikejar orang gila. Kemudian masyarakat menghadang orang gila itu. Orang gila kemudian diamankan dibawa ke pendopo dan ditanya macam-macam," jelasnya.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan di RS Bhayangkara Polda Jatim, pria yang belakangan diketahui berinisial NT dan memang mengalami gangguan jiwa. Bahkan dari informasi yang diperoleh polisi saat koordinasi lintas polres, pelaku diketahui berasal dari Cirebon dan sudah 4 tahun lamanya kabur dari keluarganya.


Drama Orang Gangguan Jiwa di Ponpes dari Lamongan hingga MadiunMasjid yang diserang di Tuban. (Foto: Dok Humas Polres Tuban)

Tak hanya di Lamongan, isu penyerangan serupa juga terjadi di daerah lain seperti Tuban dan Kediri dalam waktu yang berdekatan.

Di Kabupaten Tuban, seorang pria berinisial MZ (40) diamankan karena mengamuk dan merusak Masjid Baitur Rohim Tuban, Jalan Sumurgempol, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban hari Selasa (13/2/2018) dini hari.

Ia bersama keluarga berada di masjid sejak Isya, menunggu kiai yang disebut bisa menyembuhkan penyakitnya. Karena tak kunjung ditemui kiai, ia mengamuk dan merusak kaca masjid. Kejadian itu tentu membuat heboh warga sekitar.

Namun belakangan MZ juga dipastikan mengalami gangguan kejiwaan dan harus dirawat di RSJ Menur Surabaya.


Drama Orang Gangguan Jiwa di Ponpes dari Lamongan hingga MadiunPria dengan gangguan jiwa yang mendatangi Gontor. (Foto: istimewa)

Tak berselang lama, giliran rumah Ketua MUI Kota Madiun, KH Dr Muhammad Sutoyo di Jalan dr Sucipto No 16, didatangi pria tak dikenal yang juga diduga gila.

Saat itu ia mengaku pulang dari dokter pada pukul 21.00 WIB. Begitu masuk rumah dan menutup pagar, ia mendapati dua pria mondar mandir dengan pakaian tak layak di depan rumah dan musalanya.

"Sekitar pukul 21.00 WIB saya pulang berobat ke dokter seperti ada dua orang seliweran di sekitar depan mushola rumah saya dan kayak orang gila. Takut seperti peristiwa di Lamongan saya menghubungi Banser dan Intel Polresta," tuturnya.

Sutoyo menjelaskan saat Banser berjaga di musalanya yang juga satu kompleks, tiba-tiba pria diduga gila tersebut turun dari lantai dua rumahnya yang tangganya menjadi satu dengan mushala.

"Saat Banser berjaga, orang itu turun dari atas musala. Kemungkinan sebelumnya masuk tanpa saya ketahui lewat pagar, yang jarang saya kunci," ungkap Sutoyo.

Sutoyo kemudian mengungkapkan orang tak dikenal ini akhirnya ditangkap di hari yang sama pada pukul 23.30 WIB.

Akhirnya diketahui bahwa orang dengan gangguan jiwa bernama David Setiawan (35). Ia pun langsung dibawa ke RS Jiwa Dr Soeroto Ngawi. Dengan pengawalan polisi, David juga didampingi orang tuanya yang datang dari Ngawi dan Tuban.


Usai dari Madiun, seorang pria menggegerkan warga sekitar Pondok Pesantren Al Hidayah Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Pria ini masuk ke rumah pengasuh ponpes, KH Mujtaba, dan menarik tangan sang kiai hingga terjatuh dari tempat tidur.

Beruntung kejadian ini diketahui keluarga dan santri. Pria tersebut dibawa keluar dan sang kiai yang merupakan Ketua Dewan Syuro PKB Kabupaten Pasuruan tersebut, dibawa kembali ke tempat tidur.

Namun ternyata dari keterangan pihak pesantren, pria tersebut bernama Slamet dan masih memiliki hubungan keluarga dengan KH Mujtaba.

Kiai Mujtaba pun sangat mengenal pria tersebut sehingga tak kaget saat ia masuk ke rumahnya. Bahkan kiai menawarinya uang.

"Saat akan diambilkan uang justru tangan Yai ditarik sehingga Yai jatuh dari tempat tidur," kata Arif, salah seorang santri.

Menurut Arif, pria tersebut memang memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Bahkan menurut beberapa sumber, ia baru keluar dari RSJ Lawang, pada Januari. "Ini insiden biasa. (Jadi ramai) karena di tengah isu banyaknya kiai diteror," kata Arif.


Drama Orang Gangguan Jiwa di Ponpes dari Lamongan hingga MadiunRazia orang dengan gangguan jiwa di Lamongan. (Foto: Eko Sudjarwo/File)

Pria ini akhirnya diamankan polisi dan dibawa ke RSJ Sumber Porong. Sebelumnya, Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo juga didatangi Martuji (43), warga Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Ponorogo.

Martuji mendatangi ponpes ini dengan alasan ingin bertemu KH Syamsul Adnan untuk meminta doa agar sembuh dari penyakitnya. Namun ia hanya terlihat mondar-mandir di tempat parkir saja.

Menurut keterangan Ustad Yus, bagian pengasuhan Pondok Gontor, bahwa orang yang datang dan berada di tempat parkir tersebut sebelumnya juga pernah datang dan melaksanakan salat di depan wisma KH Hasan Abdullah Sahal.

"Berhubung pakaian yang dikenakan tidak layak. Akhirnya sama Ustad Royan disuruh pergi keluar Pondok kemudian dia pergi ke arah timur," ujar Kapolres Ponorogo AKBP Suryo Sudarmadi.

Suryo menerangkan Martuji memang dikenal sebagai orang dengan gangguan jiwa di wilayah Mlarak. Ia biasa mengenakan celana legging dan baju perempuan serta pandai berbahasa Arab.

"Martuji memang dikenal memiliki kemampuan bahasa Arab serta mengenal banyak para kyai," imbuhnya.


Terkait banyaknya isu penyerangan ulama maupun pondok pesantren, polisi pun mengatakan itu hanya serba kebetulan. Apalagi dapat dibuktikan bahwa orang-orang yang menyerang ulama atau pondok pesantren di Jatim sebenarnya hanyalah orang dengan gangguan jiwa yang mengamuk atau sekadar memasuki area ponpes.

Saat itu juga polisi mengimbau agar masyarakat tidak paranoid dan tidak mudah percaya dengan isu yang beredar, terutama lewat media sosial.

"Masyarakat jangan paranoidlah. Tapi tetap harus mengantisipasi, tetap waspada, tetapi jangan terlalu berlebihan," pesan Kapolda Jatim saat itu, Irjen Pol Machfud Arifin.

Saat itu, Machfud juga menginstruksikan jajaran polres di Jatim untuk merazia orang dengan gangguan jiwa demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di wilayah masing-masing.
(lll/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed