DetikNews
Rabu 05 Desember 2018, 16:02 WIB

Begini Situasinya Jika Tunagrahita Simulasi Pencoblosan di Ponorogo

Charolin Pebrianti - detikNews
Begini Situasinya Jika Tunagrahita Simulasi Pencoblosan di Ponorogo Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Difabel di Indonesia mempunyai hak yang sama untuk menyalurkan suaranya lewat Pemilihan Umum. Namun simulasi tetap diperlukan agar mereka tidak kebingungan di hari pelaksanaan. Salah satunya digelar oleh KPU Kabupaten Ponorogo.

Hari ini, KPU Kabupaten Ponorogo menyelenggarakan simulasi pencoblosan bagi penyandang disabilitas, khususnya tunagrahita. Simulasi digelar di Rumah Harapan Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong.

Simulasi ini diikuti oleh sekitar 41 orang penyandang tunagrahita bersama 8 pendamping.

"Mereka mau datang ke tempat sosialisasi dengan diiming-imingi makanan dan uang. Kalau tidak seperti itu mereka tidak mau. Pasti langsung pulang kalau tidak dikasih apa-apa," tutur Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Karangpatihan Yuliana kepada detikcom, Rabu (5/12/2018).


Yuliana mengaku hanya bisa mengajak 41 dari 98 penyandang tunagrahita yang ada di wilayahnya karena mereka tergolong tunagrahita tingkat sedang dan rendah.

"Kalau yang tingkat rendah dan sedang bisa diajak komunikasi dan kerjasama meski lambat pemahamannya. Sisanya tunagrahita tingkat tinggi. Mereka tidak bisa diajak kerjasama karena ngikut sama mood-nya dia. Pas dia senang ya dia ikut, kalau dia marah ya dia bisa langsung pulang," terangnya.

Berkaca dari pengalaman saat Pilgub lalu, Yuliana tetap berinisiatif menjemput para tunagrahita untuk mencoblos meski hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Banyak dari penyandang tunagrahita ini memilih tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Bahkan saat Pilgub lalu, meski sudah datang ke TPS ada warga tunagrahita yang ngambek tidak mau mencoblos.

"Saya dulu door to door jemput mereka, tapi karena ikut mood-nya mereka banyak yang tidak mau datang," jelasnya.

Begini Situasinya Jika Tunagrahita Simulasi Pencoblosan di PonorogoFoto: Charolin Pebrianti

Yuliana kemudian menjelaskan tahapan yang dilalui para penyandang tunagrahita saat simulasi pencoblosan. Pertama, para penyandang tunagrahita dikumpulkan di rumah harapan agar mereka tetap tenang mengikuti simulasi, mereka pun diberi jajan.

Kedua, mereka diberi pengarahan oleh petugas KPU dan pendamping. Ketiga, satu persatu-satu mereka disuruh maju dan mempraktikkan apa yang diajarkan. Saat mencoblos mereka diberi kebebasan untuk memilih. Namun sesaat sebelum mencoblos dan sesudah mencoblos mereka mendapatkan pendampingan agar tidak keliru. Bahkan saat melipat kertas suara dan memasukkannya kedalam kotak suara mereka harus didampingi.

Terakhir, mereka diberi uang. Sebab para tunagrahita ini tidak akan mau mengikuti sosialisasi jika tidak menerima imbalan.


Sementara itu, Komisioner KPU Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Partisipasi Masyarakat (Parmas) Nita Herdianawati mengutarakan bahwa saat melakukan simulasi pencoblosan, para penyandang dibimbing untuk mencoblos hingga benar-benar siap, mulai dari melipat kertas dan memasukkan ke dalam kotak suara dilakukan oleh pembimbing.

"Jadi hanya saat mencoblos saja mereka diberi kebebasan memilih, setelah itu kami dampingi untuk pelipatan dan pengembalian surat suara," paparnya.

Menurutnya, meski secara fisik mereka terlihat normal namun kemampuannya dalam menyerap informasi rendah. Namun sesuai Peraturan KPU Nomor 11 Tahun 2018 tentang pendataan penyandang tunagrahita, setiap warga tunagrahita yang memiliki e-KTP wajib masuk kedalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

"Hari ini selain para penyandang tunagrahita kami juga melakukan simulasi bagi para lansia," pungkasnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed