DetikNews
Jumat 26 Oktober 2018, 15:50 WIB

Jumlah Kematian Demam Berdarah Tinggi, Ini Kata Dinkes Blitar

Erliana Riady - detikNews
Jumlah Kematian Demam Berdarah Tinggi, Ini Kata Dinkes Blitar Foto: Erliana Riady/File
Blitar - Selama 10 bulan tahun 2018, tercatat enam anak di Kabupaten Blitar meninggal terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD). Faktor utama masih tingginya angka kematian karena keterlambatan mendapat penanganan medis.

Beberapa orang tua yang ditemui detikcom menceritakan, jika gejala DBD yang timbul anaknya tidak seperti umumnya yang terjadi selama ini. Gejala umum yang menyertai DBD biasanya panas tinggi selama tiga hari, timbul ruam atau bercak merah di permukaan kulit, lalu tubuh penderita lemah dan nafsu makan berkurang.

"Anak saya itu tidak panas tidak lesu, tiba-tiba mimisan. Setelah saya bawa ke dokter baru ketahuan kalau terserang DBD," aku Tri Endarwati yang anaknya masih diopname di RSD Mardi Waluyo Kota Blitar, Jumat (26/10/2018).

Cerita serupa juga diungkapkan Joko Prasetyo. Cucunya yang berusia 4 tahun tidak mengalami gejala umumnya DBD. Hanya saja merasa mual dan langsung muntah setiap diberi minuman.

"Hari kedua badannya panas. Hari ketiga turun demannya, tapi kondisinya sangat lemas. Setelah saya bawa ke dokter, katanya DBD dan harus diopname," tutur Joko.

Kabid Yankes Dinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati menyatakan, ada mutasi gen pada virus dengue yang menyebabkan deteksi awal DBD tidak sesimple dengan mengenal pola pelana kuda.


"Ada banyak hal yang mempengaruhi kenapa kuman dan virus itu sekarang kalau menimbulkan penyakit. Biang penyakitnya sebenarnya sama, tapi pola berkembangnya berbeda tidak seperti yang dulu," kata Christine diujung telepon.

Menurut Christine, virus istilah ahli medis bermutasi karena sudah "diubek-ubek". Seperti dengan obat fogging, nyamuk akan mengalami mutasi gen.

"Sehingga saat terinfeksi virus, virusnya mengalami perubahan. Pada kondisi tertentu jika mengingeksi manusia, itu pola penyakitnya tidak sesederhana seperti dulu. Ada perubahan skema pola juga, dan ini tidak hanya terjadi di virus DBD tapi juga virus yang menyebabkan penyakit lainnya," beber Christine.

Padahal, mengenal 3 fase DBD yang juga dikenal dengan "Siklus Pelana Kuda" bisa menjadi langkah awal dalam penyembuhan DBD. Istilah Siklus Pelana Kuda sendiri dibuat untuk memudahkan masyarakat dalam mengenal grafik naik-turun panas yang dialami oleh penderita DBD. Lalu jika terjadi perubahan pola, tindakan apa yang bisa kita lakukan untuk mengeliminir jumlah korban meninggal ?

"Gejala apapun, yang utama adalah panas, kemudian terlihat lemah lesu, tidak ada selera makan dan anak mengeluh ada nyeri di perut. Hari ke-1, ke-2 mungkin bisa dikasih obat. Tapi kalau hari ketiga keluhan tidak berkurang, orang tua harus segera ke lab," jelasnya.

Saat ini yang paling mudah untuk dilihat adalah penurunan trombosit. Sebenarnya, kata Christine, sudah ada tes laboratorium anti dengue. Reagen untuk pemeriksaan virus dengue itu efektif dan valid mendeteksi adanya virus dengue.

"Reagen anti dengue ini sudah spesifik untuk DBD. Penanganan suspect DB dan yang positif DBD pun juga berbeda. Kalau positif DBD terapinya hanya cairan. Nah itu yang kadang-kadang kita over use antibiotik. Padahal antibiotik hanya dipakai untuk pengobatan suspect DBD," ungkapnya.

Sedangkan untuk tindakan preventif menghindari serangan virus DB, Christine mengajurkan untuk memperbanyak asupan cairan.

"Apalagi kalau hawanya panas seperti sekarang ya, kalau biasanya delapan gelas sekarang harus diusahakan minum minimal 10 gelas sehari. Perbanyak konsumsi buah dan sayur itu wajib dan pasti menjaga nutrisi yang kita konsumsi," pungkasnya.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed