DetikNews
Rabu 17 Oktober 2018, 11:14 WIB

Salut, Pemuda Lamongan Ini Ubah Bonggol Jagung Jadi Pakan Ternak

Eko Sudjarwo - detikNews
Salut, Pemuda Lamongan Ini Ubah Bonggol Jagung Jadi Pakan Ternak Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Untuk pakan ternak, yang digunakan dari tanaman jagung biasanya hanyalah daunnya saja. Namun seorang pemuda di Lamongan memanfaatkan bonggol jagung untuk pakan ternak.

"Bonggol jagung selama ini dibuang begitu saja oleh para petani, karena dianggap sampah yang tidak mempunyai manfaat dan nilai jual apapun. Kalaupun dimanfaatkan, dulu dipakai sebagai ganti kayu bakar untuk memasak," kata Iswandi saat berbincang dengan detikcom, Rabu (17/10/2018).

Bahkan menurut pemuda berusia 25 tahun itu, bonggol jagung (janggel dalam bahasa Jawa) sudah tidak dilirik lagi oleh petani sebagai pengganti kayu bakar karena sudah ada gas elpiji.


Ia kemudian terinspirasi ketika melihat para peternak kesulitan mencari pakan di musim kemaran seperti saat ini. Mereka kesulitan mencari rumput hijau, sedangkan pada musim kemarau, petani biasanya beralih menanam jagung.

"Kalau daun jagung jelas dimanfaatkan untuk pakan ternak, tapi saya kemudian bertanya pada diri saya sendiri, apa tidak mungkin memanfaatkan bonggol atau janggel ini sebagai pakan ternak," jelas Iswandi

Iswandi lantas memanfaatkan limbah bonggol jagung yang melimpah di wilayah Lamongan selatan, seperti di Modo, dan tempat tinggalnya Kecamatan Bluluk dan sekitarnya.

"Saya kemudian berusaha mencari bonggol jagung ini dengan mencoba menyusuri wilayah terdekat dengan rumah saya dan mengumpulkannya tanpa harus membeli dan hanya butuh mengeluarkan biaya angkut," katanya.


Pemuda Lamongan Ubah Limbah Bonggol Jagung Jadi Pakan Ternak AlternatifFoto: Eko Sudjarwo

Cara membuat pakan ternak alternatif dari bonggol jagung ini juga dikatakan Iswandi sangat mudah. Pertama, bonggol jagung dijemur sampai benar-benar kering untuk kemudian digiling menjadi tepung kering yang disebut concobu.

"Concobu bonggol jagung mempunyai kandungan beragam jenis, semisal asam amino, karbohidrat, zat besi, protein dan lemak," paparnya.

Setelah digiling, lanjut Iswandi, tepung bonggol jagung ini dicampur bahan lain seperti tebon jagung, sekam, dedak, rendeng, jerami atau kawul. Selain itu, ada tambahan formula lain dan rempah-rempah yang kesemuanya bisa didapatkan tanpa harus membeli. Namun Iswandi enggan membeberkan apa saja bahan tambahannya.

"Penggerusan semua bahan dasar itu sudah dilakukan dengan menggunakan mesin yang dirangkai dengan alat giling hasil modifikasi sendiri yang multifungsi, bukan pabrikan," aku Iswandi.

Dalam sehari, warga Dusun Juruk, Desa Primpen, Kecamatan Bluluk ini mengaku mampu memproduksi rata-rata 1 ton pakan alternatif siap saji dengan dibantu dua pekerja warga setempat. Pakan alternatif ini dijual seharga Rp 1.000 per kilogram ke tangan peternak.


Butuh waktu tiga tahun bagi Iswandi untuk memperkenalkan dan memasarkan pakan dari bonggol jagungnya. Barulah setahun belakangan, pakan dari bonggol jagung itu mulai diminati peternak sapi, meski masih terbatas di daerah sekitarnya saja seperti di Kecamatan Kedungpring, Ngimbang, Sambeng, Sukorame, Modo dan Bluluk.

"Sudah banyak pesan di luar kecamatan itu, tapi karena saya belum bisa memproduksi dalam partai besar," terang Iswandi.

Iswandi menambahkan ia hanya akan berproduksi pada musim kemarau saja, sebab pakan dari bonggol jagung ini sifatnya hanya alternatif.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed