DetikNews
Jumat 12 Oktober 2018, 20:19 WIB

PDAM: Kemarau Panjang, Ada Sumber Air di Trenggalek yang Kering Total

Adhar Muttaqin - detikNews
PDAM: Kemarau Panjang, Ada Sumber Air di Trenggalek yang Kering Total Sumber Bayong, salah satu sumber air utama PDAM di Trenggalek. (Foto: Adhar Muttaqin)
Trenggalek - Musim kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan debit sejumlah sumber bahan baku air PDAM di Kabupaten Trenggalek menyusut. Akibatnya ratusan pelanggan tidak terlayani.

Kepala Bidang Teknik PDAM Trenggalek, Sudarmo, mengungkapkan, saat ini pihaknya memiliki 30 titik pengambilan bahan baku air bersih berupa mata air, sungai hingga sumur bor. Jumlah instalasi yang terpasang bisa menghasilkan air 645 liter/detik, namun saat ini sebagian besar produksinya mengalami penurunan hingga tinggal 361 liter/detik.

Bahkan ada dua titik sumber air yang mengalami kering total sehingga tidak dapat menyuplai air untuk pelanggan di wilayah tersebut.

"Semua titik mengalami penurunan akibat kemarau panjang ini, bahkan dua sumber air di Kecamatan Dongko yakni Sumber Gemitri dan Ponggok telah kering total sehingga tidak bisa menyuplai air untuk pelanggan di wilayah tersebut," kata Sudarmono saat ditemui detikcom di kantornya, Jumat (12/10/2018).


Sebagai solusinya, petugas PDAM harus mengirimkan air bersih menggunakan mobil tangki yang dipasok dari Kecamatan Panggul. Proses pengiriman dilakukan sesuai dengan kebutuhan minimal rumah tangga.

Dijelaskan Sudarmono, dari puluhan titik sumber tersebut, hanya Sumber Bayong di Kecamatan Bendungan yang kondisinya masih relatif normal dan hanya mengalami penurunan cukup kecil. Saat ini Sumber Bayong yang berada di lereng Gunung Wilis ini mampu memproduksi air sebanyak 200 liter/detik dari total 240 liter/detik.

"Bayong ini menjadi andalan PDAM Trenggalek, karena ini yang memasok air untuk wilayah kota dan sekitarnya. Kalau ini sampai kering ya habis Trenggalek kota. Di wilayah Bendungan itu sebetulnya ada sumber lain, yakni Bregul dan Dilem. Untuk Bregul kering total, sedangkan Dilem tinggal 10 liter/detik dari semula 40 liter/detik," ujarnya.


Dari data yang dikantongi PDAM Trenggalek, dampak kekeringan tahun ini juga merupakan yang paling parah selama 10 tahun terakhir. Pada tahun-tahun sebelumnya, debit airnya masih bisa dimanfaatkan untuk menambah pasokan bahan baku meskipun memasuki masa kemarau.

"Lima tahun lalu itu juga pernah mengalami kemarau yang cukup panjang, namun dampaknya tidak sampai seperti ini," ungkapnya.

Namun Sudarmono memastikan, untuk pelanggan di wilayah kota dan sekitarnya akan mendapatkan pasokan air dengan lancar. Kalaupun tersendat bukan akibat minimnya pasokan dari hulu, namun terjadi akibat faktor eksternal seperti gangguan jaringan distribusi.

"Seperti berapa pekan terakhir ini ada sedikit gangguan karena jaringan distribusi utama kami sempat rusak akibat terkena alat berat yang melakukan perbaikan jalan di wilayah Bendungan," jelasnya.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed