DetikNews
Jumat 12 Oktober 2018, 10:13 WIB

Pasokan Tak Cukup, Warga Pasuruan Cari Air Hingga Sejauh 3 Km

Muhajir Arifin - detikNews
Pasokan Tak Cukup, Warga Pasuruan Cari Air Hingga Sejauh 3 Km Foto: Muhajir Arifin
Pasuruan - Kekeringan di Kabupaten Pasuruan meluas dari 20 desa menjadi 22 desa. Meski setiap hari dilakukan distribusi air bersih, ternyata warga masih kekurangan dan berupaya mencari air sendiri di sumber-sumber yang jauh dari pemukiman.

Hal itu disampaikan warga Desa Kedungpengaron, Kecamatan Kejayan. Sariman, salah seorang warga mengungkapkan setiap hari pemerintah memang menyalurkan air ke desanya, namun pasokan itu belum mencukupi untuk keperluan lainnya.

"Warga kalau malam ambil air sendiri di sumber untuk keperluan lain. Jaraknya sekitar 3 km," kata Sariman kepada detikcom, Jumat (12/10/2018).


Keluhan Sariman dibenarkan Rohimah, warga lainnya. Selain selalu menantikan distribusi air bersih dari pemerintah daerah, ia juga meminta suaminya mengambil air sumber uang jaraknya sangat jauh dari desa.

"Dikasih terus setiap hari, tapi untuk kebutuhan lain masih kurang, jadi ambil sendiri," ungkapnya.

Mendengar keluhan warga, Wabup Mujib Imron mengakui jika distribusi air dari pemerintah memang bersifat kedaruratan.

"Pemerintah daerah lewat BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan dinas terkait sudah berusaha maksimal. Setiap hari setiap desa dikirim dua rit air," kata Mujib

Distribusi air dari pemerintah diakuinya tak mencukupi kebutuhan air warga berdampak karena hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti masak dan minum. Sementara ini, pemerintah daerah meminta perusahaan swasta turun tangan.

"Kami minta perusahaan turun tangan, ikut salurkan air ke warga. Karena warga juga butuh air untuk kebutuhan lain selain minum dan masak," tandasnya.


Pria yang akrab disapa Gus Mujib itu juga mengajak kepada Orgaisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Dari hasil tinjauan tersebut, ia memerintahkan Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Tata Ruang, Hanung Widya Sasangka untuk membangun jaringan pipa dan menyediakan pompa untuk menyalurkan air dari sumber terdekat ke desa.

"Untuk Desa Kedungpengaron ini kan sebenarnya nggak jauh dari sumber air, maka saya minta Pak Hanung untuk menyediakan pipa dan pompa. Katanya akan dibangun tahun ini. Agar warga bisa mandi setiap hari, termasuk bisa mandi besar. Kami juga berdoa semoga segera turun hujan," ungkapnya.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana mengungkapkan 22 desa yang terdampak kekeringan memiliki kondisi geografis yang berbeda sehingga penanganannya juga berbeda.

"Ada desa yang sumber-sumbernya kering habis, ada yang masih memiliki sumber tapi butuh pipa. Di Kedungpengaron ini warga ambil dari sumber yang jaraknya agar jauh. Butuh pipa. Tapi pemerintah menjamin untuk kedaruratan seperti minum dan masak, semuanya mencukupi karena setiap hari kita kirim," terangnya.

Bakti mengatakan sudah ada perusahan yang ikut membantu distribusi air bersih. Namun jumlahnya masih kecil dibandingkan jumlah perusahaan di Kabupaten Pasuruan yang mencapai ribuan.

"Ada belasan perusahaan yang sudah ikut kirim air, terutama ke desa yang dekat dengan pabriknya," lanjutnya.


20 Desa di Kabupaten Pasuruan yang mengalami krisis air antara lain Desa Cukurguling, Watulumbung, Lumbang, Karangjati dan Karangasem di Kecamatan Lumbang. Kemudian Desa Sumberejo, Kedungrejo dan Jeladri di Kecamatan Winongan.

Di Kecamatan Lekok, krisis air terjadi di Desa Wates, Semedusari, Pasinan dan Balunganyar. Sementara di Kecamatan Pasrepan, 6 desa mengalami krisis antara lain Klakah, Petung, Sibon, Ngantungan, Mangguan dan Tambakrejo. Di Kecamatan Gempol, Desa Bulusari dan Wonosari yang mengalami krisis air bersih.

Namun karena kemarau panjang jumlah desa yang mengalami kekeringan bertambah 2 menjadi 22, yaitu Desa Ngembal di Kecamatan Tutur dan Desa Kedungpengaron di Kejayan.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed