DetikNews
Jumat 14 September 2018, 13:57 WIB

Kurs Dolar Masih Tinggi, Pengrajin Batik Colet Pangkas Honor Pekerja

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kurs Dolar Masih Tinggi, Pengrajin Batik Colet Pangkas Honor Pekerja Pengrajin batik colet di Jombang terpaksa memangkas honor pekerjanya. (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jombang - Tingginya kurs dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah membuat harga bahan baku kerajinan batik colet di Jombang melonjak. Pengusaha pun terpaksa memangkas honor pekerja agar harga batik tak naik.

Seperti yang dilakukan Sutrisno (50), pengusaha batik colet di Dusun Pelem, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Jombang. Batik colet dibuat dengan teknik pewarnaan menggunakan kuas dan pola motifnya digambar menggunakan pensil.

Karena kurs dolar yang masih tinggi, Sutrisno mengungkapkan harga bahan baku batik, yaitu kain mori saat ini naik mencapai Rp 1.000 per yard atau per 91,44 cm.

"Padahal kebutuhan kain mori kalau pesanan saya sedang banyak sampai 400 yard. Harga dari pabrik Rp 18.500 per yard," kata Sutrisno kepada wartawan di tempat usahanya, Jumat (14/9/2018).


Bahkan Sutrisno menambahkan, harga pengunci warna batik (water glass) juga naik cukup siginifikan. Jika sebelumnya bahan kimia impor ini seharga Rp 1,5 juta per drum (isi 330 kg), maka saat ini melambung hingga Rp 2,1 juta per drum.

"Harga itu belum termasuk ongkos kirim sebesar Rp 250 ribu," imbuhnya.

Kondisi ini memaksa Sutrisno untuk memutar otak agar tak ditinggalkan pembeli. Pemilik merk batik New Colet ini kemudian memilih memotong honor 17 pekerjanya.

"Harga batik tetap Rp 150 ribu per lembar (200x115 cm). Karena kalau naik, pembeli akan komplain," ujarnya.


Sutrisno mengaku memperkerjakan 17 karyawannya itu dengan sistem borongan. Untuk setiap lembar kain batik colet, biasanya ia membayar karyawannya Rp 15 ribu.

"Saya kurangi borongan karyawan Rp 1.000 per lembar. Kalau full colet Rp 15 ribu per lembar, saat ini menjadi Rp 14 ribu per lembar. Alhamdulillah mereka mau," terangnya.

Para karyawan yang dominan ibu-ibu rumah tangga itu, tambah Sutrisno, biasa bekerja secara berkelompok. Rata-rata setiap harinya 6 pekerja mampu menyelesaikan 20 lembar kain batik colet.

Ia pun berharap kurs USD segera bisa ditekan. "Kalau dolar naik terus ya susah karyawan saya," keluhnya.


Gaya Hidup Syahrini Tetap Aman Meski Dolar AS Naik, tonton videonya di sini:

[Gambas:Video 20detik]


(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed