DetikNews
Selasa 04 September 2018, 11:31 WIB

Ini Alasan Unair Bangun Museum yang Bikin Ingat Mati

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Ini Alasan Unair Bangun Museum yang Bikin Ingat Mati Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Keberadaan Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian atau Museum Kematian di Universitas Airlangga (Unair) nyatanya bukan tanpa alasan. Ini tak lepas dari peranan pengelolanya, Departemen Antropologi.

Dikisahkan salah satu pengurus museum, Desi Bestiana, museum ini sudah berdiri sejak tahun 2006. Awalnya hanya berupa koleksi replika makam yang diletakkan di salah satu ruangan di departemen berikut keterangannya. Tak ada dupa dan musik pengiring seperti saat ini.

"Jadi museum ini itu pertama kali didirikan oleh jurusan Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga itu sekitar tahun 2006. Awalnya hanya satu ruangan ini terus kita men-display koleksinya itu masih secara tradisional. Biasanya etnografi yang kita punya aja itu kita kasih keterangan dan secara tradisional," papar Desi kepada detikcom, Selasa (4/9/2018).


Beberapa saat kemudian, Museum Kematian memperoleh dana hibah dan akhirnya bisa direnovasi. "Di tahun 2014 kita mendapatkan hibah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk merenovasi bangunan museum," lanjutnya.

Lantas apa tujuan pendiriannya? Desi menjelaskan, di departemennya, ada dua macam peminatan ilmu yang dipelajari, yaitu antropologi sosial budaya dan antropologi ragawi. Namun untuk memudahkan orang mempelajarinya, pengelola merasa perlu ada konsep yang dapat mewakili keduanya.

Ini Alasan Unair Bangun Museum yang Bikin Ingat MatiFoto: Hilda Meilisa Rinanda

"Kalau tentang sosial budaya itu kita mempelajari manusia secara kebudayaan dan sosialnya. Sementara kalau yang ragawi itu kita mempelajari khusus tubuh manusia. Nah agar dua peminatan itu bisa bersatu dan bisa di-display-kan di sini secara bersama-sama, kita cari tema yang bisa menyatukan keduanya. Akhirnya kita pilih tema kematian, karena kematian itu bisa dilihat dari budaya dan bisa dilihat dari segi tubuh manusia itu sendiri karena setelah mati manusia akan dikubur dan diproses dalam pembusukan," papar Desi.

Koleksinya sendiri rata-rata berupa replika yang dibuat untuk museum. Namun Desi memastikan kerangka yang digunakan bukan replika, melainkan kerangka betulan yang diperoleh pengelola dari kepolisian atau kerangka dari jenazah tanpa identitas.


Kendati demikian, Desi menambahkan, museum yang lebih akrab dikenal dengan Museum Kematian ini tidak hanya berisi tentang hal-hal berbau kematian seperti makam dan kerangka, tetapi juga ada beberapa koleksi etnografi yang disuguhkan dalam museum ini.

"Kalau yang banyak itu koleksi kerangka manusia, terus sebelumnya itu kita museum etnografi, jadi kita banyak benda-benda etnografi tapi tidak selalu berhubungan dengan kematian. Itu kalau dihitung yang ratusan," ungkapnya.

Koleksi etnografi yang dimiliki Museum Kematian ini di antaranya berbagai fosil dan buku-buku tentang etnografi Indonesia yang sangat luas.
(lll/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed