Warga Blitar 'Hiasi' Jalan Rusak dengan Tanam Pohon Pisang

Erliana Riady - detikNews
Selasa, 28 Agu 2018 12:09 WIB
Foto: Erliana Riady
Blitar - Warga Blitar nekat menanam pohon pisang di tengah jalan yang rusak. Jalan sepanjang 3 Km di Dusun/Desa Karangrejo Kecamatan Garum, ini ditanam pisang lantaran tak kunjung diperbaiki.

Mereka memprotes pamong desa, lurah dan camat yang dianggap tidak menghiraukan aspirasi warga.

"Yang membuat kami tambah marah, saat kami tinggal kerja di sawah, pohon pisang itu malah dicabuti aparat desa. Ini kan berarti aparat itu tidak mendukung aspirasi kami," keluh seorang warga setempat, Aris (35) ditemui di rumahnya, Selasa (28/8/2018).

Aksi tanam pohon pisang ini dilakukan warga, Minggu (25/8) malam. Namun paginya, 10 pohon pisang yang ditanam hilang dicabut pamong desa. Lalu, Senin (26/8) malam, warga kembali menanami jalan dengan pohon pisang.


"Kalau ini sampai dicabut lagi, kami akan gelar aksi demo besar-besaran. Apa coba maunya camat itu, kok malah tidak mendukung warganya," imbuhnya.

Informasi yang dihimpun, Camat Garum sudah menemui warga 10 hari lalu. Warga dijanjikan dalam 10 hari mendapat jawaban dari Pemkab Blitar. Namun hingga kini janji itu belum terealisasi.

Dari pantauan detikcom, jalan yang rusak parah tepat di tengah jalan masuk Desa Karangrejo. Jalur masuk dari sisi selatan Desa Modangan menuju Desa Karangrejo, kondisi jalannya dicor sepanjang 5 km. Pembangunannya dilakukan akhir 2017.

Sedangkan dari arah utara, perbatasan Desa Karangrejo hingga Desa Sidodadi telah di hotmix sepanjang 5 km. Proses pembangunan selama sepekan dan selesai dikerjakan awal 2018 lalu.


"Katanya beberapa warga, karena kontraktornya Koh Mbun (Susilo Prabowo) sedang ditangkap KPK. Jadi tidak bisa meneruskan pembangunan jalannya," kata seorang warga bernama, Joko.

Sementara selama ini jalan desa itu akses utama keluar masuk truk penambang pasir dari Kaliputih. Selama 24 jam, sekitar 1.000 truk mondar mandir melewati jalan desa.

Di perbatasan Dusun Karangrejo-Sumbersuko ada sebuah portal terpasang. Informasi yang diterima detikcom, setiap truk yang melintas di portal itu harus membayar retribusi sebesar Rp 30 ribu. Jika dalam sehari ada 1.000 truk yang melintas, maka pendapatan yang masuk per hari mencapai Rp 30 juta.

Sementara baik Kades Karangrejo maupun Camat Garum belum bisa dikonfirmasi terkait keluhan warga ini. Melalui pesan whatssApp yang dikirim, Camat Garum hanya menulis saat ini sedang menggelar rapat. (fat/fat)